Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774




Di Solo dan sekitarnya tarekat Syadziliyah sudah berkembang lama. Kiai Imam Rozi (Singo Manjat) pendiri Pondok Pesantren Singo Manjat Tempursari Klaten ada salah satu mursyidnya. Sama seperti di Sumolangu di kemudian hari banyak anak cucu dan muridnya yang melanjutkan kemursyidan tarekat Syadziliyah.

Kiai Imam Razi adalah putra Kiai Maryani bin Kiai Wirononggo II bin Kiai Wirononggo I bin Kiai Singo Hadiwijoyo bin Kiai Tosari bin Kiai Ya’kub bin Kiai Ageng Kenongo. Ia lahir pada tahun 1801 M. Sejak kecil ia belajar agama dari ayahnya, Kiai Maryani, kemudian berguru kepada Kiai Rifai, yang sekarang makamnya ada di Gathak Rejo, Drono Klaten. Ia juga berguru kepada Kiai Abdul Jalil Kalioso bersama Kiai Mojo, Penasihat Pangeran Diponegoro.

Kiai Abdul Muid adalah dzuriyah beliau dari melaui jalur Ibu Ny. Thohir, putri Kiai Zaid, yang berasal dari Gabudan, Solo. Kiai Muid inilah yang melanjutkan pembaitan tarekat Syadziliyah. Kiai Muid belajar kepada Syekh Abdurrohman Al Hasani Somalangu dan Kiai Idris bin Zaid Jamsaren Solo. Beliau wafat hari Jumat Pahing, 8 Shafar 1360 H bertepatan tanggal 7 Maret 1941.

Di Boyolali tarekat ini disebarkan kembali oleh murid Kiai Muid yakni Kyai Soeratmo Muhammad Idris atau yang lebih dikenal dengan Mbah Idris Kacangan, dilahirkan pada tanggal 1 april 1913 M, putra KH. Amir Hasan Yogyakarta dan Ny. Aisyah binti KH. Idris Boyolali. Beliau wafat pada hari rabu pon tanggal 26 Jumadil Akhir 1423 H/4 September 2002.

Beliau mendalami dan Bai’at Thoriqoh Szadziliyyah sejak muda kepada beberapa mursyid/Guru Thoriqoh, antara lain KH. Abdul Mu’id Tempursari Klaten, KH. Ahmad Siroj Keprabon, Solo, KH. Abdul Rozaq Tremas Pacitan dan KH. Ahmad Ngadirejo, Solo dan KH. M. Idris Jamasaren, Solo.

Bertemu langsung dengan Syeikh Soleh Mufthi Al Hanafi di Makkatul Mukaromah dan syeikh Ahmad Nahrowi Muhtarom Al Banyumasi Makkah. Semenjak beliau menjadi Mursyid, telah puluhan ribu jumlah anggota yang diasuh, terdiri dari berbagai macam lapisan masyarakat. Bahkan beberapa bulan sebelum beliau wafat, beliau masih sempat memba’aiat sekitar 200 orang sambil tiduran karena sudah udzur atau sakit, dan dilakukan bersama atau dijamak.

Selanjutnya ada juga putra Kiai Muid yakni KH. Muh Ma’ruf Mangunwiyoto Jenengan, Solo, murid sekaligus anak yang meneruskan pembaitan tarekat Syadziliyah. Penulis sempat membaca salah satu karya beliau berupa manakib Imam Asy Syadzili dalam bahasa jawa.


Murid lain Kiai Muid yang mengembangkan tarekat Syadziliyah adalah KH. Muhammad Samiun bin Muhamad Ma'sum Karangsalam Banyumas. Kiai Samiun belajar tarekat Syadziliyah kepada KH Abdullah bin Abdul Muthalib Kaliwungu, Kendal. Penerus tarekat beliau adalah KH Zaid Abu Mansyur Lesmana dan KH Abu Hamid Beji.

KH. Abu Hamid Beji



Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com