Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774

Analogi yang Salah

“Kang, tolong pohon Kristen di samping pesantren itu ditebang !”, pinta Kiyai Nasir tiba2 pada seorang santri.

Santri itupun bingung dan belum mengerti, ia melihat ke kanan kiri pesantren.

“Iya, pohon cemara itu. Tebang segera. Itu pohon Kristen !” tukas kiyai Nasir lebih tegas.

“Pohon Kristen? Apa maksudnya? Lagian itu pohon ditanam oleh Kiyai Ahmad. Beliau sendiri yang menanam tiga tahun lalu,” gumam santri dalam hati.

“Sebelum menebang cemara itu, aku harus minta izin Kiai Ahmad dulu”.

“Punten Kiyai. Kulo disuruh Kiyai Nasir untuk menebang cemara yang ada di samping pesantren, Pripun ?”, kata santri pada Kiyai Ahmad.

“Hah ! Cemara ditebang...? Wit-witan apik ngono arep ditebang, kenapa?”, ucap Kiyai Ahmad kaget.

“Nganu Kiyai... kata Kiyai Nasir, pohon cemara itu pohon Kristen”, ujar si santri polos.

“Hah? Pohon Kristen ? Ada-ada saja Kiyai Nasir itu, wit-witan nganggo agomo mbarang. Pohon Kristen lagi. Nggak ono iku. KTP saja dia tidak punya kok. Gak usah ditebang. Biar nanti saya yang menjelaskan ke Kiyai Nasir.

•••••

Setelah itu kyai ahmad bertanya langsung ke kediaman Kyai Nasir

"Punten Kiyai, benar sampayan nyuruh santri untuk nebang pohon cemara itu ?", tanya Kiayi Ahmad pada Kiyai Nasir.

"Iya Benar",  saut Kyai nasir

" Wit-witan apik ngono arep ditebang, kenapa ?" tanya kyai Ahmad.

"Itu pohon kristen ", jawab Kiyai Nasir

"Waduh... sejak kapan pohon beragama, Kiyai ?"

"Lha itu yang dibuat pohon natal atau duplikatnya itu kan cemoro, Kiyai "

"Oh... Kalau begitu pohon kelapa yang sampeyan tanam di belakang pesantren mesti di tebang juga"

"Lah Kok ?"

"Lha iya. Karena janur kelapa suka dipakai untuk upacara adat agama Hindu. Berarti itu pohon hindu ! ".

Kiyai Nasir terdiam.

"Sekalian kerudung santri-santri putri yang bentuk segitiga itu dibakar semua ", lanjut Kiyai Ahmad

"Lah Kok ?"

"Lha iya. Karena segitiga itu simbol yahudi".
Kiyai Nasir terdiam lagi.

"Sekalian juga pesantren ini dirubuhkan saja", lanjut Kiyai Ahmad lagi.

"Lah Kok mbrentek tekan endi-endi,Kiyai ?", ucap Kiyai Nasir kaget.

"Lha iya. Karena kuda-kuda penyangga atap bentuknya palang paték seperti salib", jelas Kiyai Ahmad.

Kembali Kiyai Nasir terdiam.

"Mbok kita itu jangan membuat generalisasi suatu kasus yang tidak ada kaitannya. Yang penting itu substansinya; Cemara biso kanggo ijon-ijon ben seger ning mripat; jilbab sebagai penutup aurat; kuda-kuda bangunan bentuk salib sebagai penyangga atap gedung agar kuat... Apalagi pohon kelapa, banyak yang bisa kita manfaatkan dari pohon yang satu itu", tutur Kiyai Ahmad menasehati.

Kiyai Nasir tersenyum manggut-manggut sambil mengelus-ngelus jenggotnya.
Kemudian dia berhenti mengelus-ngelus jenggot dengan raut wajah kaget, karena dia ingat kalau santa claus juga berjenggot.

Namun segera Kiyai Nasir tersenyum kembali, karena dia tahu kalau jenggot juga tidak beragama.

- Kanjeng Sunan Kembang -
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com