Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774

بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫المناسخات‬‎
Fiqih Faraa’idh (Munasakhah)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya semua. Amma ba’du:
Berikut pembahasan fiqih fara’idh berkenaan dengan munasakhah sebagai tambahan. Semoga Allah menjadikan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
Pengertian Munasakhah
Munasakhah secara bahasa artinya pemindahan. Secara istilah, munasakhah adalah keadaan ketika seseorang wafat, namun belum sempat dibagikan warisannya sehingga ahli warisnya ada yang wafat juga, baik seorang atau lebih, sehingga harta pun berpindah dari ahli waris yang satu ke ahli waris yang lain.
Cara penyelesaiannya
Cara penyelesaiannya adalah kita tashih setiap masalah yang ada, selanjutnya kita perhatikan bagian yang diperoleh si mayit yang kedua dari masalah pertama, demikian pula memperhatikan angka yang menjadikan masalah itu dapat diselesaikan.
Masalah dan bagian yang diperolehnya bisa tabayun atau tawafuq.
Ketika Tabayun
Jika bagian yang diperoleh si mayit kedua dengan masalahnya terjadi tabayun, maka kita kalikan semua masalah pertama dengan masalah kedua yang telah ditashih, dan kita kalikan semua masalah kedua dengan bagian yang diperolehnya dari masalah pertama.

Contoh ketika tabayun
                             4                  2       3
Ahli Waris
Fardh
AM = 6

2
4
24
Suami
½
3
W



Ibu
1/3
2
-


8
Paman
Sisa
1
-


4



Anak Pr
½ (1)
2
6



Saudara lk
Sisa (1)
1
3



Saudara lk
1
3
Masalah pertama dapat ditashih dengan bilangan 6, masalah kedua dapat ditashih dengan bilangan 4 (setelah dilakukan tashih dari 2 x 2 orang ashabah). Selanjutkan kita perhatikan saham (bagian yang diperoleh) orang yang wafat kedua dari masalah pertama, yaitu 3 dan masalahnya. Ternyata bisa ditashih dengan bilangan  4. Namun karena saham dengan masalahnya terjadi tabayun (karena tidak ada qasim musytarak/faktor pembagi antara kedua angka itu), maka kita kalikan semua masalah pertama (6) x 4 yang merupakan tashih masalah kedua, dan kita kalikan semua masalahnya dengan bilangan 3 yang merupakan bagian si mayit.
Dengan demikian, kita dapat menyelesaikan jami’ah dari bilangan 24 yang merupakan hasil dari perkalian 4 x 6.
Selanjutnya kita kalikan bagian yang diperoleh ahli waris pertama di masalah pertama dengan angka 4, sehingga,
Ibu memperoleh bagian 8 (dari 2 x 4)
Paman memperoleh bagian 4 (dari 1 x 4)
Demikian pula dikalikan semua bagian yang diperoleh ahli waris pada masalah kedua dengan angka 3, sehingga,
Anak perempuan memperoleh bagian 6 (dari 2 x 3)
Semua saudara memperoleh bagian 3 (dari 1 x 3).

Ketika Tawafuq:
Ketika saham (bagian yang diperoleh si mayit kedua) dengan masalahnya tawafuq, maka kita kalikan semua masalah pertama dengan angka wafq (cocok) masalah kedua, dan kita kalikan semua masalah kedua dengan wafq sahamnya dari masalah pertama.
Contoh tawafuq
                2                          3        1

6

2
6
12
Suami
3
W



Ibu
2



4
Paman
1



2


Putri
1
3
3


Saudara lk
Sisa (1)
1
1


Saudara lk
1
1


Saudara lk
1
1
Catatan:
Kita lihat bagian yang diperoleh si mayit kedua dengan masalahnya, yaitu 3 dan bisa ditashih dengan bilangan 6. Antara saham dengan masalahnya terdapat tawafuq karena ada qasim musytarak (faktor pembagi antara keduanya), yaitu 3. Maka, wafq masalahnya adalah masalah yang sudah ditashih dibagi angka wafq, yakni 6 : 3 = 2, sedangkan wafq sahamnya adalah saham (bagian yang diperoleh si mayit) dibagi angka wafq, yakni 3 : 3 = 1. Selanjutnya, kita kalikan semua masalah pertama dengan angka 2 yang merupakan wafq masalahnya, dan kita kalikan semua masalahnya dengan angka 1 yang merupakan wafq sahamnya.
Dengan demikian, masalah jami’ah (akhir) selesai dengan bilangan 12 yang merupakan hasil perkalian 6 x 2.
Namun perlu diperhatikan di sini, bahwa wafq masalahnya, yaitu 2 berada di atas masalah pertama, sedangkan wafq sahamnya, yaitu 1 berada di atas masalah kedua.     
Demikian juga perlu diperhatikan, bahwa bagian ibu menjadi 4 hasil dari perkalian 2 x 2, sedangkan paman memperoleh 2 bagian; hasil dari perkalian 1 x 2. Adapun bagian ahli waris pada masalah kedua tetap tidak berubah, karena hanya dikali dengan angka 1.
Contoh lainnya:
Seorang wafat meninggalkan seorang istri, 3 anak laki-laki, dan 1 anak perempuan, lalu di antara anak laki-laki itu wafat meninggalkan ibu, istri, 2 putri, dan saudari sekandung.
Penyelesaiannya adalah:
                      12                           1

8
8

24
96
Istri
1
1
Ibu
4
16 (Hasil dari 1 x 12) + (4 x 1)
Anak lk
7
2
W


Anak lk
2
Saudara seayah

24
Anak lk
2
Saudara seayah

24
Anak pr
1
Saudari kandung
1
13 (Hasil dari 1 x 12) + (1 x 1)



Istri
3
3



Anak pr
8
8



Anak pr
8
8
Catatan:
Kita lihat bagian yang diperoleh si mayit kedua dengan masalahnya, yaitu 2 dan bisa ditashih dengan bilangan 24. Antara saham dengan masalahnya terdapat tawafuq karena ada qasim musytarak (faktor pembagi antara keduanya), yaitu 2. Maka, wafq masalahnya adalah masalah yang sudah ditashih dibagi angka wafq, yakni 24 : 2 = 12 (kita letakkan di kolom masalah pertama), sedangkan wafq sahamnya adalah saham (bagian yang diperoleh si mayit) dibagi angka wafq, yakni 2 : 2 = 1 (kita letakkan di kolom masalah kedua), kemudian diselesaikan seperti contoh sebelumnya.
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam, wal hamdulillahi Rabbil alamin.
Marwan bin Musa
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com