Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774

بسم الله الرحمن الرحيم

Hasil gambar untuk ‫شيخ الاسلام ابن تيمية‬‎

Syarah Qashidah Lamiyyah

(Syair Akidah Ahlissunnah Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah)

Bagian ke-1

Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:

Berikut syarah (penjelasan) terhadap Qashidah Lamiyyah yang menerangkan tentang akidah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (w. 728 H), yang menunjukkan bahwa akidah Beliau adalah akidah Ahlussunnah wal Jamaah, akidah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya, dan merupakan akidah imam yang empat (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad rahimahumullah)  semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Biografi Ringkas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Beliau adalah Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Taimiyah Al Haraaniy. Lahir di Harran pada hari Senin pada tanggal 10 Rabi’ul Awwal tahun 661 H.

Guru-guru beliau lebih dari dua ratus orang (sebagaimana dikatakan Ibnu Abdil Hadiy dalam Al Uqud Ad Durriyyahhal. 18). Di antara mereka yang masyhurnya adalah Ibnu Asakir Ad Dimasyqi dan Al Mawardi. Adapun murid-muridnya, di antaranya Al Hafizh Al Mizzi, Ibnu Abdil Hadi Al Maqdisiy, Syamsuddin Adz Dzahabi, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Ibnu Muflih, dan Ibnu Katsir rahimahumullah.

Imam Adz Dzahabiy berkata, “Aku mengumpulkan karya tulis Syaikhul Islam Taqiyyuddin Abul Abbas Ahmad bin Taimiyah, dan saya jumlahkan mencapai seribu karya tulis, lalu ternyata ada karya tulisnya yang lain.” (Lihat Ar Raddul Wafir karya Ibnu Nashiruddin hal 35).

Imam As Subki Asy Syafi’i berkata, “Tidak ada yang membenci Ibnu Taimiyah kecuali orang yang bodoh atau pengikut hawa nafsu. Orang bodoh tidak tahu terhadap apa yang diucapkannya, sedangkan pengikut hawa nafsu ditolak oleh nafsunya dari mengikuti kebenaran setelah mengetahuinya.”  (Ar Raddul Wafirhal 24)

Sanad penerjemah hingga ke Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Marwan Hadidi bin Musa berkata, “Telah aku baca Manzhumah Lamiyyah di hadapan Abu Adil Ahmad bin Muhammad bin Hasan bin Abdul Hamid Nafi dan Beliau telah memberikan ijazah kepadaku, ia membacanya di hadapan Abu Abdillah Laits bin Abdul Wahid Al Hayaliy dan lainnya –beliau juga memiliki sanad ali hingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-, dimana dirinya membacakan di hadapan Muhammad bin Abu Bakar Al Habsyi, dari Umar bin Hamdan Al Mahrasi, dari Abu Nashr Al Khatib, dari Umar Al Amidiy Ad Diyarabkariy, dari Al Murtadha Az Zubaidi, dari Umar bin Uqailah, dari Hasan Al Ujaimiy, dari Az Zain Ath Thabari Al Makkiy, dari Al Ma’mar Al Hishariy, dari Jalaluddin As Suyuthi, dari Muhammad bin Muqbil Al Halabiy, dari Al Hafizh bin Muhammad bin Abdillah bin Ahmad Al Maqdisi bin Al Muhib Ash Shamit, dari Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyah. 

Matan Manzhumah Lamiyyah dan syarahnya

**********

يَا سَائِلِي عَنْ مَذْهَبِي وَعَقِيْدَتِي

         رُزِقَ الهُدَى مَنْ لِلْهِدَايَةِ يَسْأَلُ

Wahai orang yang bertanya tentang madzhab dan akidahku

Semoga mendapat petunjuk orang yang bertanya tentangnya

**********

Syarah (penjelasan)

Madzhab artinya jalan atau pemahaman dalam beragama, Beliau adalah seorang yang bermadzhab Hanbali, lalu menjadi seorang mujtahid mutlak.

Bait syair di atas adalah jawaban terhadap orang yang bertanya tentang madzhab dan akidah Syaikhul Islam, dimana jika maksudnya mencari hidayah atau kebenaran, maka ia akan mendapatkan petunjuk.

**********

اِسْمَعْ كَلاَمَ مُحَقِقٍ فِي قَوْلِهِ

       لاَ يَنْثَنِي عَنْهُ ولا يَتَبَّدَلُ

Dengarlah ucapan orang yang mengikuti

Tidak menyimpang maupun berganti

**********

Syarah (Penjelasan):

Maksud orang yang mengikuti di sini adalah orang yang mengikuti madzhab dan pendapat kaum salaf (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya). Pendapat tersebut tidak menyimpang dan berubah-ubah, karena merujuk kepada kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

**********

حُبُّ الصَّحَابَةِ كُلِّهِمْ لِيْ مَذْهَبٌ

            وَمَوَدَّةُ القُرْبَى بِهَا أَتَوَسَّــلُ

Mencintai semua para sahabat adalah madzhabku

Demikian pula mencintai kerabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang kujadikan sebagai sarana beribadah

**********

Syarah (Penjelasan):

Para sahabat adalah mereka yang bertemu dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan beriman kepadanya dan wafat di atas Islam.

Syair di atas merupakan bantahan terhadap kaum Syi’ah Rafidhah yang membenci sebagian para sahabat radhiyallahu anhum.

Sikap kita terhadap para sahabat adalah mendoakan keridhaan Allah untuk mereka, mencintai mereka, meyakini bahwa mereka adalah orang-orang yang terbaik setelah para nabi dan rasul, dan menahan diri terhadap perselisihan yang terjadi di antara mereka.

Adapun kerabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka maksudnya istri-istri Beliau dan keturunan Bani Hasyim serta Bani Muththalib.

Ahlussunnah wal Jamaah mencintai keluarga Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Sarana beribadah dan berdoa (tawassul) ada yang syar’i dan ada yang terlarang. Tawassul yang syar’i adalah dengan menyebut nama Allah atau sifat-Nya (seperti mengucapkan “Ya Allah Ar Razzaq, berilah aku rezeki”), dengan amal saleh yang dikerjakannya (seperti mengucapkan “Ya Allah, jika amal yang kukerjakan ini ikhlas karena-Mu, maka kabulkanlah permohonanku”), atau dengan doa orang yang saleh yang masih hidup yang ada di hadapannya (seperti mengatakan kepadanya, “Wahai ustadz, doakan saya”). Sedangkan tawassul yang terlarang adalah dengan perantaraan doa orang-orang yang telah meninggal dunia, dengan ibadah yang dilakukan di kuburan, dengan jah (kedudukan) para nabi atau orang-orang saleh (seperti mengucapkan “Yaa rabbi bil Mushthafa” atau “Bi Ahlil Badri Yaa Allah”), dsb.

**********

وَلِكُلِّهِمْ قَدْرٌ عَلاَ وَفَضَائِلُ

            لَكِنَّمَا الصِّدِّيْقُ مِنْهُمْ أفْضَلُ

Masing-masing mereka memiliki kedudukan yang tinggi dan keutamaan

Akan tetapi Abu Bakar Ash Shiddiq adalah yang paling utama

**********

Syarah (Penjelasan):

Dalam bait di atas, Syaikhul Islam menerangkan madzhab Ahlussunnah wal Jamaah bahwa para sahabat memiliki keutamaan, akan tetapi yang paling utama di antara mereka adalah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu.

Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata, “Kami di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mampu membandingkan Abu Bakar dengan yang lain, lalu Umar, kemudian Utsman...dst.” (Diriwayatkan oleh Bukhari no. 3697)

Faedah:

Siapa saja yang mencaci-maki para sahabat secara keseluruhan, maka dia telah melakukan kekafiran. Tetapi barang siapa yang mencaci-maki salah seorang sahabat saja, maka dalam hal ini ada perincian; jika tertuju kepada diri sahabat maka dia telah melakukan dosa besar, tetapi jika maksudnya mencela syariat, maka hal itu merupakan kekafiran.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«مَنْ سَبَّ أَصْحَابِي فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ، وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

“Barang siapa yang mencaci-maki para sahabatku, maka dia berhak mendapatkan laknat Allah, para malaikat-Nya, dan manusia semua.” (Hr. Thabrani dalam Al Kabir, dan Ibnu Abi Syaibah, dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 3340)

**********

وَأَقُولُ فِي القُرآنِ مَا جَاءَتْ بِهِ

            آياتُه فَهْوَ الْكَرِيْمُ الْمُنْزَلُ

Tentang Al Qur’an, aku menyatakan seperti yang disebutkan

Oleh ayat-ayat-Nya. Ia adalah kitab mulia yang diturunkan

**********

Syarah (Penjelasan):

Al Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, yang ditulis dalam mushaf, yang diriwayatkan secara mutawatir (At Ta’rifat oleh Al Jurjani hal. 174).

Kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alahi wa sallam disebut sebagai Al Qur’an karena di dalamnya menghimpun berbagai kisah, perintah dan larangan, janji dan ancaman, menghimpun ayat  dan surat. (An Nihayah fi Gharibil Hadits karya Ibnul Atsir 4/30)

Dalam bait syair di atas, Syaikhul Islam menyebutkan akidah Beliau tentang Al Qur’an bahwa ia adalah firman Allah; bukan makhluk, dan turun dari sisi Allah Azza wa Jalla. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia agar ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Hal itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (Qs. At Taubah: 6)

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا

“Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar itu.” (Qs. Al An’aam: 92)

Beliau pertegas dengan bait syair setelahnya berikut ini:

**********

وَأَقُولُ: قَالَ اللهُ جَلَّ جَلَالُهُ

         الْمُصْطَفَى الهَادِي وَلاَ أَتأَولُ

Aku katakan ‘Al Qur’an adalah firman Allah Jalla Jalaluh’

Yang telah dipilih (untuk Rasul pilihan-Nya) lagi memberi petunjuk, dan aku tidak mentakwilnya.

**********

Maksud ‘aku tidak mentakwilnya’ yakni merubah makna(kandungan)nya yang hak (benar) yang ditunjukkan olehnya. Misalnya mentakwil sifat Allah ‘Istawa’ (bersemayam di atas Arsy) diartikan dengan ‘istawla’ (menguasai), sifat ‘Tangan’ dengan ‘kekuasaan’, dsb.

Hal ini dipertegas lagi dengan bait syair setelahnya, yaitu:

**********

وَجَمِيْعُ آيَاتِ الصِّفَاتِ أُمِرُّهَا

            حَقًّا كَمَا نَقَلَ الطِّرَازُ الْأَوَّلُ

Seluruh ayat yang menyebutkan sifat Allah, maka kusebutkan

Dengan benar sebagaimana yang disebutkan oleh generasi pertama yang saleh terdahulu

**********

Syarah (Penjelasan):

Maksud bait syair di atas adalah, bahwa semua ayat atau hadits yang menyebutkan tentang sifat Allah hendaknya kita sebutkan sesuai zhahirnya dengan makna yang sesuai dengan keagungan Allah Azza wa Jalla tanpa tamtsil (menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk), tanpa takyif (menanyakan hakikatnya), tanpa ta’thil (meniadakan), dan tanpa ta’wil (mengartikan lain) sebagaimana generasi pertama (kaum Salafus Shalih) menyebutkannya.

Bersambung…

Wallahu a’lam wa shallallahu ala Nabiyyina Muhammad wa alaa alihi wa shahbihi wa sallam

Marwan Hadidi bin Musa, M.PdI

Maraji’: At Ta’liqaat Alal Laamiyyah (Khalid bin Mahmud Al Juhanniy), http://majles.alukah.net/t114718/ Maktabah Syamilah versi 3.45, dll.
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com