Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774



Cinta itu paradoks dan tak bergaransi. Ada yang bilang cinta itu indah, tapi tak sedikit orang yang dibuat buruk karenanya. Ada yang bilang cinta itu anugerah, namun banyak juga orang yang dirulung duka sebabnya. Semua dilema cinta tersebut hadir dalam antologi cerpen bertema parade 26 fiksi cinta kali ini.
Bicara soal sisi teknis: daya imajinasi, eksplorasi bahasa, gramatika, ide dan penokohan menjadi syarat wajib yang tak pernah luput dari proses seleksi sebelum antologi ini unjuk diri. Tak kurang dari 268 naskah telah menumpuki antrian. Namun, karena hanya ada tiga kursi spesial dan 23 kursi pilihan, maka masuklah 26 entri berikut: Cincin Putih (Dita Dwi Selvia), Selebrasi Rindu Dan Malam Yang Tak Lagi  Mesra (Maratus Sholikha), Seuntai Sajak Sendu (Rifaa Senja), Mawar-Mawar Malaikat Kecil (Miftahul Jannah), Payung Merah Di Bawah Guyuran Air Hujan (Metty Lolita), Matinya Sang Penyair Dan Kutukan Sajaknya (Alvy N Dina), Terhasut Harta (Silvi Nilatin Lailah), Semua Karena Cinta (Ulin Nurviana), Wanita Pertama(Nasrul M Rizal), Tentang Sebuah Penyesalan (Linda Rohmatul Azizah), Kabut Senja Di Lereng Rinjani (Khumairoh Fatin), Tentang Rasa (Nako-Mona), Awan Tak Selamanya Mendung (Qori’ah Ali), I’am A Muslim (Tutik Awaliyah), Yang Terlupakan (Syarifatun Ni’mah), Hujan Tidak Sepenuhnya (Reda) (Nina), Keridhoanmu (Syifa’), Uhibbuk Fillah(Syarifah Rifdah Zahfa Al Kaff), De Javu (Suci Lailatul Jannah), Ibrahim Pergi Haji (Ahmad Muayyad), Cela Sempurna (Melete Yahya), Surat Ke-tujuh (Melete Yahya), Kupu-Kupu Fajar (Bintang Eben Rusyd), Bukit Tebusan (Bintang Eben Rusyd) dan Pupus (Noer FaOezhie).
Dalam proses pemilihan, akumulasi poin tertinggi jatuh kepada Cincin Putih, namun untuk kategori judul, pilihan jatuh kepada Seuntai Sajak Sendu. Judul ini cukup reflektif mewakili dominasi perasaan yang muncul, tak terkecuali pada cerpen karangan Dita Dwi Selvia sendiri.
Meski terkesan sederhana, namun muatan nilai-nilai sosial dalam cerpen Cincin Putih tidak bisa dikesampingkan. Kesadaran, kepekaan dan penerimaan adalah item langkah bagi mereka yang telah terbuai cinta. Inilah pelajaran bagaimana orang ketiga memahami realitas sesungguhnya. Bagaimana memenangkan kesadaran ketimbang memperjuangakan keegoisan dalam siklus cinta segitiga.
Beralih ke sisi tematis. Buku berukuran 11,5 kali 18 cm ini merupakan bingkisan istimewa untuk pembaca. Kendati dari sisi kualitas tak sedasyat karya penulis kenamaan semisal Budi Darma dan Seno Gumira Ajidarma, toh bukan hal yang salah jika 26 entri kali ini berusaha memanjakan para penikmat fiksi dengan suguhan episode kisah cinta yang tak kalah berwarna.
Singkat kata, inilah parade fiksi 26 cinta. Ada harapan jika buku dengan  menjadi suguhan yang menawan untuk dikaji dan dinikmati atau bahkan untuk sekadar menggelitiki ingatan bahwa ada sekumpulan manusia yang pernah merasakan bagaimana patah hati, mencintai dan membenci. Untuk info pemesanan bisa menghubungi kontak kami.
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com