Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774

Berikut pembahasan tentang kaum salaf dan akhlak mereka dalam berteman, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.

Kedermawanan Ibnul Mubarak
Al Khathib berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Ibrahim dan Abu Muhammad Al Khallal. Mereka berkata, “Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Muhammad bin Ismail Al Katib, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al Hasan Al Muqri, aku mendengar Abdullah bin Ahmad Ad Daurqi, aku mendengar Muhammad bin Ali bin Al Hasan bin Syaqiq, aku mendengar ayahku berkata, “Jika tiba musim haji, maka kawan-kawan Ibnul Mubarak dari penduduk Marwa berkumpul di hadapannya dan berkata, “Kami siap menemanimu,” lalu Ibnul Mubarak berkata, “Kumpulkan ongkos-ongkos kalian!” Lalu ia mengambil ongkos mereka dan meletakkannya di sebuah kotak dan menguncinya, kemudian ia yang membayarkan sewa rumah mereka serta membayarkan ongkos mereka dari Marwa ke Bagdad, ia terus saja mentraktir dan memberikan mereka makananan yang enak dan snack yang paling lezat. Sekeluarnya mereka dari Bagdad, mereka juga memakai pakaian yang paling bagus dan penuh wibawa hingga mereka tiba di Madinah, lalu beliau bertanya kepada masing-masing mereka, “Oleh-oleh apa yang diminta keluargamu agar engkau belikan untuk mereka dari Madinah?” Masing-masing mereka mengatakan, “Mereka pesan ini dan itu.” Selanjutnya beliau membawa mereka meninggalkan Mekkah, dan terus saja beliau mentraktir mereka hingga mereka tiba di Marwa. Beliau juga mengecatkan rumah dan pintu mereka. Setelah tiga hari berlalu, beliau membuat pesta untuk mereka dan memberi mereka pakaian. Setelah mereka makan dan bergembira, beliau memerintahkan (pelayannya) membawakan kotak uang mereka. Beliau membukanya dan menyerahkan bungkusan kepada pemiliknya, masing-masing sudah ada namanya.” (Siyar A’amin Nubala 8/385, 386)

Dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya ia berkata, “Ibnu Umar pernah berkata, “Wahai Abu Khalid (panggilan Aslam, budak yang dimerdekakan Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu), sesungguhnya aku melihat Amirul Mukminin selalu bersamamu dibandingkan sahabat-sahabatmu. Beliau tidaklah keluar safar melainkan engkau selalu bersamanya. Beritahukanlah kepadaku tentang hubunganmu terhadapnya!” Ia menjawab, “Sesungguhnya Beliau (Umar) merasa bukan orang yang terpandang. Beliau biasa menyiapkan kendaraan kami, dan menyiapkan barangnya sendiri. Suatu hari, kami sedang bersiap-siap, ternyata Beliau sudah menyiapkan kendaraan kami, dan juga kendaraannya sendiri. Beliau bersenandung,

“Janganlah malam ini membuatmu gelisah

Pakailah gamis dan sorbanmu

Jadilah teman yang berguna, berbaktilah, bantulah orang banyak, sehingga dengan itu engkau telah membantu dirimu sendiri.”

(Siyar A’lamin Nubala4/99)

Bilal bin Sa’ad meriwayatkan dari orang yang melihat Amir bin Abdullah At Tamimi di Romawi. Beliau memiliki hewan bighal (peranakan kuda dan keledai) yang dikendarainya bergantian; ia membawa orang-orang yang berhijrah dengan menaikinya secara bergantian. Bilal berkata, “Apabila beliau memutuskan untuk berperang, beliau menyeleksi orang yang akan menemaninya. Apabila beliau tertarik dengannya, Beliau akan meminta syarat agar bisa melayani mereka, demikian juga agar bertindak sebagai muazin, serta membiayai mereka sebatas kemampuannya.” (Siyar A’lamin Nubala 4/17).

Dari Mush’ab bin Ahmad bin Mush’ab ia berkata, “Abu Muhammad Al Marwazi pernah singgah di Bagdad ketika hendak ke Mekkah. Aku senang jika bisa mendampingi beliau. Aku pun mendatanginya dan meminta untuk bisa menemaninya, namun beliau tidak mengizinkanku di tahun itu. Pada tahun kedua dan ketiga, aku mendatanginya lagi, memberinya salam dan meminta hal itu lagi, maka beliau berkata, “Bersiaplah, namun dengan satu syarat, yaitu salah seorang di antara kita ada yang menjadi pemimpin safar yang perintahnya tidak boleh dibantah.” Aku berkata, “Kalau begitu engkau pemimpinya.” Ia balik berkata, “Bahkan engkau yang menjadi pemimpin (safar).” Aku menjawab, “Engkau lebih tua dan lebih layak terhadapnya.” Ia berkata, “Kalau begitu, jangan menyelisihiku.” Aku menjawab, “Ya.” Maka aku berangkat bersamanya. Ketika itu saat tiba waktu makan, maka ia selalu mendahulukan diriku. Ketika aku berusaha menolak, beliau langsung berkata, “Bukankah aku telah meminta syarat darimu agar tidak menyelisihiku.” Demikianlah tindakan beliau selama di perjalanan sehingga aku menyesal menemani perjalanannya karena ternyata menyusahkannya. Suatu hari, kami kehujanan di tengah perjalanan, lalu ia berkata kepadaku, “Wahai Abu Ahmad, carilah mil (batu pembatas satu mil),” lalu ia berkata kepadaku, “Duduklah di lantainya.” Lalu beliau mendudukkan diriku di lantainya, sedangkan kedua tangannya diletakkan di atas batul mil sambil berdiri sampai badannya condong ke arahku. Beliau juga mengenakan kain yang lebar untuk melindungiku dari hujan, sehingga aku berangan-angan tidak pergi bersamanya karena aku begitu menyusahkan beliau. Begitulah yang beliau lakukan sampai kami tiba di Mekkah, semoga Allah merahmatinya.” (Shifatush Shafwah 4/148, 149).

Kisah Itsar (Mengutamakan Orang Lain)

Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa ada seorang yang datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu Beliau meminta jamuan kepada istri-istrinya, namun istri-istrinya menjawab, “Kita tidak memiliki apa-apa selain air.” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah yang mau membawa orang ini (ke rumahnya) dan menjamunya?” Lalu salah seorang Anshar berkata, “Saya.” Maka ia pergi dengannya menemui istrinya, ia berkata, “Muliakanlah tamu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Istrinya menjawab, “Kita tidak memiliki apa-apa selain makanan untuk anak-anak kita.” Ia (suaminya) menjawab, “Siapkanlah makananmu, nyalakan lampu dan tidurkanlah anak-anakmu ketika mereka hendak makan malam.” Maka istrinya menyiapkan makanannya, menyalakan lampunya dan menidurkan anak-anaknya, lalu ia berdiri seakan-akan sedang memperbaiki lampunya, kemudian ia memadamkannya. Keduanya (Suami dan istri) seakan-akan memperlihatkan kepada tamunya bahwa keduanya makan, sehingga keduanya tidur malam dalam keadaan lapar. Ketika tiba pagi harinya, maka ia mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu Beliau bersabda, “Tadi malam Allah takjub melihat perbuatan kamu berdua.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan ayat, “Dan mereka mengutamakan (kaum muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan barang siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang orang yang beruntung.” (Terj. QS. Al Hasyr: 9).

Hudzaifah Al Adawi berkata, “Pada saat perang Yarmuk (peperangan yang terjadi antara kaum muslimin melawan kekaisaran Romawi timur pada tahun 15 H/636 M), aku mencari sepupuku dengan membawa sedikit air sambil kuberkata (dalam hati), “Jika ia masih hidup, aku akan beri dia minum, dan mengusap wajahnya,” maka aku pun menemuinya, lalu aku berkata, “Maukah engkau kuberi minum?” Lalu ia berisyarat kepadaku menunjukkan dirinya mau. Tiba-tiba terdengar suara seseorang ‘aah’, maka sepupuku berisyarat kepadaku agar aku pergi mendatanginya, dan ternyata dia adalah Hisyam bin Ash, lalu aku berkata, “Maukah engkau kuberi minum?” Tiba-tiba terdengar suara seseorang ‘aah’, maka Hisyam berisyarat kepadaku agar aku pergi mendatanginya, lalu aku mendatanginya, ternyata ia telah wafat, maka aku kembali menemui Hisyam, ternyata ia telah wafat pula, dan aku kembali menemui sepupuku, ternyata ia telah wafat pula, semoga Allah merahmati mereka semua. (Minhajul Muslim hal. 123)

Telah diriwayatkan, bahwa ada tiga puluh orang lebih yang berkumpul di hadapan Abul Hasan Al Anthakiy, mereka membawa roti yang sedikit yang tidak cukup untuk mereka semua, maka mereka potong kecil-kecil dan memadamkan lampunya, lalu duduk untuk makan. Saat meja diangkat, ternyata roti-roti itu tetap dalam keadaan sebelumnya tanpa berkurang sedikit pun, karena salah seorang di antara mereka tidak ada yang memakannya demi mengutamakan orang lain daripada dirinya sehingga tidak ada satu pun yang makan.” (Minhajul Muslim hal. 124)

Basyar bin Harits pernah didatangi oleh seseorang pada saat dirinya sakit yang membawa kepada kematiannya. Orang itu mengeluhkan kebutuhan kepadanya, maka Basyar melepaskan gamis yang dipakainya dan memberikannya kepadanya, lalu ia meminjam gamis untuk dipakainya, kemudian ia wafat mengenakan gamis itu. (Minhajul Muslim hal. 124).

Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Maraji’: Maktabah Syamilah versi 3.45, Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf (Abdul Aziz Nashir Al Julail dan Bahauddin Fatih Aqil), Maktabah Syamilah versi 3.45, Minhajul Muslim (Abu Bakar Al Jazairiy), dll.
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com