Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774

menikah dengan saudara
Menikah dengan Saudara
Alamuslim.com - Hukum menikah dengan anak sepupu beda jauh dengan hukum menikah dengan paman. Walau sepupu adalah anak paman/bibi, ia boleh dinikahi. Menikah dengan anak sepupu meski masih saudara, itu boleh.
 

1. Menikah dengan Anak Bibi

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. 
Ustd. Yahya, saya ingin bertanya kepada Ustd. Pada saat ini saya di jodohkan kepada salah satu misanan saya sendiri, akan tetapi adat istiadat yang ada di tempat saya tinggal melarang menikah dengan sesama misan dengan alasan bahwasannya apabila menikah dengan sesama misan akan menjadi sial, maka apakah saya masih boleh menikah dengan misan saya tersebut ataukah saya harus mengikuti adat istiadat? Tolong jawabannya, terima kasih.
Wa'alaikumsalam warahmatullah wa barakatuh.
 
Muhammad, Jambi

Wa'alaikumsalam warahmatullah wa barakatuh,
Saudaraku yang semoga dimuliakan oleh Allah. Saudara misan (anak paman dan bibi) adalah bukan mahrom. Artinya, ia adalah wanita yang boleh dan sah anda nikahi. Memang ada anjuran agar kita tidak menikahi kerabat yang sangat dekat seperti saudara misan, akan tetapi itu bukan larangan yang haram dan menikahi saudara misan adalah tetap sah.

Adapun adat yang melarang maka anda tidak perlu percaya yang demikian itu. Banyak adat-adat di masyarakat kita yang tidak sesuai dengan syariat Islam yang kita tidak boleh mengikutinya. Asal jelas wanita tersebut shalihah kemudian Anda sudah istikharah serta mendapat restu dari orang tua Anda, maka menikahlah dengan segera.

Semoga Allah memberi kepada anda kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wallohu a'lam bishshowab.

2. Hukum Kawin Gantung
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Ustad Yahya yang sangat saya hormati, saya mempunyai satu pertanyaan. Apakah budaya Kawin Gantung (Menikah di waktu kecil) di perbolehkan di dalam agama islam? Terima kasih ustad. Wa'alaikumsalam warahmatullah wa barakatuh.
Haris, Cirebon

Wa’alaikumussalam wr. Wb.
Di dalam pernikahan ada tujuan yang amat mulia. Bukan sekedar ingin mempunyai keturunan atau menjalin silaturahmi. Akan tetapi dalam pernikahan ada juga tujuan mencari kawan untuk beribadah yang bisa saling mengingatkan jika kita salah dan mengajak kita untuk meningkatkan kebaikan.

Oleh sebab itu Rosulullah mengajari kita dalam pernikahan agar kita benar-benar dalam memilih. Menikah di saat kecil yang biasa dilakukan oleh sebagian orang, asalkan sudah memenuhi syarat rukunnya, akan dianggap sah.

Menikah dengan Saudara


Akan tetapi bukan di anjurkan. Sebab pernikahan yang di dalamnya terkandung bermacam tujuan mulia maka untuk sampai kepada tujuan tersebut hendaknya dalam memilih pasangan harus benar-benar cermat dan diduga calon pasangan tersebut bisa membantu sampai kepada tujuan-tujuan mulya tersebut.

Dan anak kecil belum terlihat tanda-tanda tersebut dan pernikahan anak kecil tetap sah asakan sudah terpenuhi syarat rukunnya. Memang sebaiknya pernikahan itu dipermudah untuk mengarahkan syahwat dan mengurangi kerusakan dalam pergaulan. Lebih lagi di zaman sekarang ini yang kebejatan moral ada dimana-mana. Yaitu mempermudah pernikahan antaran anak yang sudah berminat untuk menikah. Akan tetapi bukan dengan cara kawin gantung.

3. Menikah Kembali Setelah Lama Berpisah
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Buya saya ingin bertanya tentang nikah, misal fulan kawin dengan fulanah, dan setelah dapat tiga bulan mereka berpisah (bukan bercerai).

Fulan meninggalkan dia karena untuk mencari materi (ekonomi) dan setelah dapat 9 bulan, fulan kembali kepada istrinya, lalu mereka mendengar bahwasannya mereka harus kawin lagi dikarenakan terlalu sekejap mereka bersama, apakah itu benar?
Wa'alaikumsalam warahmatullah wa barakatuh.

Sobari, Bogor

Wa'alaikumsalam warahmatullah wa barakatuh,
Jalinan pernikahan yang sudah sah tidak akan terurai biarpun belum pernah berhubungan intim lalu berpisah dalam waktu yang lama. Sesuai yang ditanyakan, setelah sang suami meninggalkan istri untuk mencari nafkah lalu kembali kepada sang istri, maka tidak perlu melakukan akad nikah lagi  karena pernikahannya memang sudah sah dan tidak pernah terjadi perceraian.

Himbauan kami bagi pasutri agar mementingkan kebersamaan. Jangan sampai meninggalkan istri atau sebaliknya hanya mementingkan materi, sehingga jalinan rumah tangganya terabaikan.

Dalam rumah tangga perlu kebersamaan dalam mewujudkan keindahan, kebersamaan belajar agama, kebersamaan dalam ibadah kebersamaan hidup untuk bisa saling menghibur dan mengingatkan dan juga agar terhindar dari fitnah dan bisikan-bisikan syetan dan hawa nafsu.

4. Mempergunakan Pembantu
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Buya, saya seorang ibu rumah tangga, saya bekerja membantu suami untuk membantu kebutuhan sehari-hari. Saya bekerja berangkat pagi pulang sore, rumah saya tidak ada yang membersihkan. Saya ingin menyuruh orang membersihkan rumah saya upahnya dengan hasil kerja saya sendiri, bukan hasil kerja suami saya, tetapi suami saya tidak mengijinkan. Jika saya memaksa bagaimana menurut agama? Saya mohon penjelasannya. Terima Kasih.
Wa'alaikumsalam warahmatullah wa barakatuh.

Rosyidah, Brebes

Wa'alaikumsalam warahmatullah wa barakatuh,
Saudariku yang dimuliakan Allah. Apa yang Anda inginkan untuk mendapatkan pembantu yang bisa meringankan tugas Anda bukanlah sesuatu yang salah. Apalagi dengan niat Anda untuk menggaji pembantu tersebut dari uang anda sendiri.

Begitu juga di saat sang suami menolak mendatangkan pembantu barang kali ada pertimbangan lain yang Anda tidak mengetahuinya. Maka berusahalah untuk senantiasa membuat komunikasi dengan suami untuk sampai kepada suatu kesepakatan. Sebab tanpa kesepakatan amat susah untuk menemukan keserasian dalam hidup kebersamaan.

Hal lain yang perlu dicermati adalah, mungkin sekali suami Anda menolak seorang pembantu karena demi kemuliaan rumah tangga. Dan jika harus mendatangkan pembantu dan dia wanita, maka pembantu yang bukan mahram dengan suami Anda tentunya ada batasan-batasan di dalam berinteraksi yang harus dipatuhi termasuk menghindari terjadinya berduaan di rumah atau khawatir adanya aurat yang tidak diperhatikan yang itu semua hanya menghadirkan dosa di dalam rumah tangga.

Jika Anda ingin mendatangkan pembantu kami himbau untuk memperhatikan berikut ini :
  1. Sejauh mana kebutuhan anda terhadap seorang pembantu.
  2. Terjaganya kehormatan di dalam rumah tangga anda karena seorang pembantu pasti lawan jenis anda atau lawan jenis suami anda.
  3. Kepatuhannya kepada Allah SWT sebab pembantu adalah amanat. Misalnya Jika 1 kali saja ia tidak sholat maka ada dosa yang akan dibebankan kepada anda di akhirat nanti. 

Wallahu a’lam bisshawab. (alamuslim.com)

Keterangan:
Ustadz Yahya yang dimaksud dalam artikel tanya jawab di atas adalah Ustadz Yahya Al-Bahjah dari Cirebon.
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com