Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774

Jakarta Selatan seolah tidak kehabisan sejarah tokoh-tokohnya. Kalau kemarin saya telah menceritakan Sejarah Pangeran Jaga Raksa dari Jagakarsa yang menjadi ujung tombak perjuangan dan penyebaran Islam di Jaga Karsa, kemudian Syekh Datuk Zakaria dari Lenteng Agung yang merupakan Waliyullah yang ahli dalam bidang perairan, setelah itu ada nama Syaikhuna Wijaya Sakti yang bertugas sebagai Panglima Berkuda di wilayah Ragunan, juga ada nama Syekh Datuk Kuningan Paku Negara dari Ciganjur yang ahli dalam bidang persenjataan, maka satu lagi nama yang perlu kita ketahui yaitu NYI ROS KEMBANG PANDAN WANGI.
Adapun kedatangan saya ke makam beliau ini terjadi pada tanggal 10 Juli 2016. Data tentang Nyi Ros Kembang ini sebelumnya saya peroleh dari Bang Tamin yang merupakan keturunan dari Pangeran Jaga Raksa/Jaga Karsa/Jaga Rasa yang ke 13. Berbekal nama jalan yang bernama “KRAMAT BAMBU” saya bersama istri melakukan “blusukan” untuk mencari makam Nyi Ros Kembang Pandan Wangi. Tentunya pencarian makam beliau ini adalah sebuah hal yang menarik dan menantang, mengingat Setu Babakan lebih terkenal dengan danau, kesenian Betawi, rumah Betawi, Kuliner Betawi, Perpustakaan Betawi, dll. Setu Babakan adalah salah satu Cagar Budaya Betawi yang berada di Srengseng Sawah Jakarta Selatan. Tapi siapa sangka jika di daerah Cagar Budaya tersebut terdapat sebuah makam tua dari seorang Panglima Perang dan juga penyebar agama Islam yang dulunya pernah mewarnai sejarah perjalanan wilayah Setu Babakan. Dapatlah dikatakan jika keberadaan makam tersebut jauh lebih awal ada bila dibandingkan pemukiman penduduk dan juga adanya cagar Budaya.
Yang membuat saya semakin menarik adalah saat saya diberikan alamat hanya dengan kata-kata “KRAMAT BAMBU”. Dari namanya saja saya sudah bisa menebak kalau di daerah itu pasti ada sebuah makam yang dianggap “Kramat” dan biasanya sosok yang dianggap “Kramat” itu adalah seorang ulama atau Waliyullah (tentu dalam konteks keislaman). Hal seperti ini sudah puluhan kali saya temui, jadi saya tidaklah kaget jika nama jalan tersebut muncul. Dan memang sejak beberapa tahun yang lalu saya merasakan kalau nuansa di Setu Babakan itu berbeda (bukan saya sok merasa “waskita”), apalagi dalam corak Keislamannya. Masuk wilayah Setu Babakan terasa adem dan damai (mirip dengan Condet, Jagakarsa, Mampang Prapatan) apalagi saya lihat pu’unan (Pohon-pohon) masih banyak, mushola seabrek-abrek, istri saya aja senang kalau seandainya saya ajak tinggal disini. Saya sendiri sudah berapa kali masuk wilayah Setu Babakan untuk merasakan Kuliner Betawi seperti Bir Pletok, Selendang Mayang, Kerak Telor, Soto Betawi, dll (kemarin saja saya beli dodol Nyak Mai), saya juga pernah beberapa kali nonton lenong Betawi, bahkan saya pernah ke Perpustakaan disini untuk mencari data-data tentang Kitab Al-Fatawi, artinya Setu Babakan bukanlah tempat yang asing buat saya.
Pada saat proses pencarian makam Nyi Ros Kembang saja, saya sempat silaturahim dengan salah satu orang tua Betawi asli yang bernama Kong Ri’ih untuk menanyakan keberadaan makam Nyi Ros Kembang. Melihat kondisi rumahnya saja, saya berasa berada di wilayah Betawi zaman dulu. Betul-betul saya betah di rumah beliau ini. Dan juga yang bikin saya dan istri senang, waktu berputar mencari alamat Nyi Ros Kembang, kami sempat melihat beberapa orangtua yang sedang mengaduk aduk adonan dodol dengan kuali besar plus dengan kayu bakar, wah...serasa seperti zaman Betawi dulu banget. Kalau saja waktu masih panjang, ingin rasanya saya “tontonin” pembuatan dodol Betawi ini.
Pencarian makam Nyi Ros Kembang yang berada di jalan Kramat Bambu (kira-kira 200 meter jalan raya ke arah Depok dari Pintu masuk PITUNG) akhirnya bisa berhasil dengan baik. Berkat Info Kong Ri’ih saya kemudian disarankan untuk menemui Haji Pungut untuk meminta informasi tentang Nyi Ros Kembang Pandan Wangi. Tapi...E....Ladalah...Haji Pungut yang dirumahnya ada Usaha Penyewaan Tenda (TENDA IFUL) ternyata udah meninggal, rupanya Kong Ri’ih tidak tahu. Tapi walaupun demikian salah satu mantu Haji Pungut kemudian mengantarkan saya dan istri menuju makam Nyi Ros Kembang Pandan Wangi. Seperti biasa, makam orang-orang seperti Nyi Ros Kembang ini selalu berada di tempat yang agak tersembunyi dan melewati gang sempit. Posisi makam sudah diapit beberapa rumah. Sampai di makam kemudian saya berdoa untuk arwah Nyi Ros Kembang. Kondisi makam yang saya temui cukup terawat. Berdasarkan informasi yang saya peroleh biasanya yang sering datang berziarah justru orang-orang jauh.
Beliau ini adalah tokoh yang cukup berjasa dalam mendistribusikan logistik kepada para Mujahidin yang sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi agresor Portugis dan kroni-kroninya. Melalui kerjasama dengan 4 tokoh yang sudah sebut diatas, mereka menjadikan wilayah Jagakarsa dan sekitarnya menjadi “benteng terkuat”.
Sebagai seorang wanita, kemampuan yang dimiliki oleh Nyi Ros Kembang Pandan Wangi tergolong luar biasa, tidak banyak wanita yang bisa melakukan tugas seperti ini, mendistribusikan logistik tidaklah mudah, apalagi ini seorang wanita. Perlu perhitungan yang matang dan cermat dalam tugas-tugas seperti ini, salah perhitungan maka akan banyak Prajurit kelaparan dan ini tentu akan berpengaruh pada semangat juang mereka. Sehingga dapatlah dikatakan bahwa Nyi Ros Kembang Pandan Wangi tentu bukan wanita sembarangan. Tugas-tugas seperti ini bukanlah tugas main-main, tentu dipilihnya Nyi Ros Kembang menandakan peran wanita pada saat itu cukup diperhitungkan. Dan saya berkeyakinan bahwa sosok Nyi Ros Kembang Pandan Wangi pasti keturunan orang-orang besar, karena biasanya ketrampilan seperti Nyi Ros Kembang banyak dimiliki ulama-ulama serta bangsawan-bangsawan Kesultanan.
Seperti biasa, dalam hal sebuah penugasan yang diberikan kepada tokoh-tokoh seperti Nyi Ros Kembang Pandan Wangi, biasanya sosok orang seperti beliau ini mempunyai banyak kelebihan. Beliau menurut salah satu keturunan Pangeran Jaga Raksa (Bang Tamin) Nyi Ros Kembang ini merupakan salah satu tokoh Sepuh pada masa itu. Sepuh pada waktu itu berarti sosok yang mempunyai berbagai kelebihan, ya dia Panglima Logistik, dia juga penyebar agama Islam bahkan ada yang juga dianggap sebagai Waliyullah dengan segala “keramatnya”. Salah satu persamaan dari kelima tokoh yang sudah saya sebut ini termasuk Nyi Ros Kembang, semuanya berpola hidup zuhud, semuanya tidak senang akan ketenaran, keberadaan tentang diri mereka selalu mastur (tersembunyi), sampai bentuk makampun mereka tidak senang dibuat yang berlebihan karena khawatir kalau nanti makam mereka akan dikultuskan dan dibuat untuk perbuatan yang menyimpang dari Syariah Islam. Sehingga tidak heran plang nama makam beliau tidak ada atau tidak dipasang.
Memang untuk mengidentifikasi beliau seorang Waliyullah adalah hanyalah seorang Waliyullah juga, apalagi ini adalah seorang wanita, namun indikasi yang menandakan dia seorang Waliyullah berdasarkan pengalaman dan perjalanan religi yang sering saya lakukan, biasanya di sekitar makam beliau terdapat tempat ibadah yang “nuansanya berbeda”, memasuki wilayah sekitar makam terasa tenang, biasanya juga banyak pemukiman penduduk yang corak keislamannya kuat dan mempunyai ciri khas, kondisi lingkungannya juga adem dan tenang (tidak gersang dan “panas’). Seolah tanah yang di daerahnya terdapat makam seorang ulama atau Waliyullah diberkahi Allah SWT....
Setu Babakan beruntung karena di dalamnya terdapat makam seorang Penyebar Agama Islam awal dan juga salah satu Panglima wanita yang luar biasa...
Al Fatehah untuk Nyi Ros Kembang Pandan Wangi........
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com
 
close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah