Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774

Edisi perjalanan kali ini, adalah Kebun Binatang Ragunan....
Perjalanan ini saya lakukan pada Hari Minggu pagi tanggal 10 Juli 2016. Saat itu seperti biasa saya selalu didampingi istri.
Anda jangan salah sangka dulu, saya ke kebun binatang Ragunan bukan untuk berwisata, atau tamasya dalam rangka melihat sekawanan Gorilla ataupun rombongan monyet-monyet yang bergelantungan kesana kemari. Tidak sama sekali...
Kedatangan saya ke Kebun Binatang Ragunan justru untuk mencari sebuah makam dari seorang Pejuang dan Waliyullah tempo dulu. Mungkin terdengar aneh ada makam seorang Ulama ditengah-tengah kebun binatang, namun kenyataannya makam tersebut memang ada. Bahkan kalau mau bicara fakta sejarah makam tersebut lebih dahulu ada, sebelum adanya kebun binatang Ragunan.
Sebenarnya keberadaan makam tersebut dahulunya terpisah dengan Kebun Binatang Ragunan, makam ini dahulunya terletak di tengah-tengah kampung, namun karena fihak Kebun Binatang memerlukan lahan yang luas, maka para penduduk yang tinggal di sekitar makam, tanahnya banyak yang dibebaskan, kecuali makam ini.
Makam ini sendiri terletak di pinggir danau Kebun Binatang Ragunan. Jika kita ingin mendatanginya, kita bisa masuk melalui pintu barat. Kalau anda ingin kesana, makam ini terbuka 24 jam untuk diziarahi, bisa dengan mobil ataupun motor, setelah itu bisa melapor ke pos penjagaan dengan meninggalkan KTP. Saran saya untuk motor jangan pernah datang pada hari-hari yang banyak pengunjung yang berbarengan dengan waktunya wisata, terutama pagi dan siang hari, karena parkir motor cukup jauh dengan lokasi makam. Dan ini saya sudah rasakan, bagaimana lumayannya jarak tempat parkir sampai ke makam, apalagi saat itu pengunjung Kebun Binatang Ragunan membludak, karena masih dalam rangka suasana lebaran. Oleh karena itu saran saya bagi mereka yang akan datang ke makam ini, lebih baik datang saja agak sore atau malam. Di makam ini Insya Allah tersedia Mushola dan suasana yang kondusif dan asri.
Pertanyaannya, siapakah pemilik makam tersebut ?
Beliau bernama Syaikhuna Wijaya Sakti (di nisannya tertulis SONA WIJAYA SAKTI). Beliau adalah 1 dari 5 tokoh penting penyebar agama Islam di Selatan Jakarta, khususnya pada masa-masa akan berdirinya negeri Jayakarta pada tahun 1527. Jika dilihat dari gelarnya, sudah menunjukkan kalau beliau ini merupakan ulama. Memang berdasarkan informasi keturunan Pangeran Jaga Raksa atau Pangeran Jaga Rasa/Jaga Karsa, 5 orang tokoh yang dikirim ke daerah Selatan Jakarta khususnya wilayah Jagakarsa dan sekitarnya adalah para ulama khos yang juga mempunyai kemampuan khusus. Syaikhuna Wijaya Sakti sendiri adalah seorang Panglima Berkuda yang ditugaskan untuk mempersiapkan para pasukan berkuda dalam rangka menghadapi Portugis dan kroni-kroninya. Beliau lebih banyak bergerak di darat (kalau sekarang sering disebut AD). Bersama dengan Pangeran Jaga Raksa, Syekh Datuk Agung Zakaria, Syekh Datuk Kuningan, Nyi Ros Kembang Pandan Wangi mereka saling bahu membahu dalam rangka jihad fisabillah.
Dalam tugasnya beliau banyak melatih pasukan berkuda di wilayah Ragunan dan sekitarnya. Penggunaan kuda untuk pertempuran pada masa itu memang sangat dibutuhkan, mengingat kuda adalah binatang yang cukup efektif dalam penggunaannya pada sebuah pertempuran. Jika melihat kondisi Ragunan yang sekarang, memang sangat cocok sebagai pusat pelatihan pasukan berkuda. Pada masa itu salah satu andalan kekuatan pasukan Angkatan Darat sebuah kesultanan adalah Pasukan Berkuda. Dan untuk spesialisasi ini, Syaikhuna Wijaya Saktilah orang yang cocok.
Di tangannya, pasukan berkuda yang sudah dilatih, mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Sinergisasi antara kekuatan perairan (Angkatan Laut) yang dipegang Syekh Zakaria, Logistik yang dipegang Nyi Ros Kembang, Persenjataan yang di pegang Syekh Datuk Kuningan, pusat Komando yang dipegang Pangeran Jaga Raksa terasa sekali pengaruhnya. Pergerakan jadi lebih cepat dan efesien, ini membuktikan jika ke 5 tokoh ini telah menjalankan tugasnya dengan baik.
Cerita tentang Syaikhuna Wijaya Sakti atau Mbah Jaya pada masa sekarang ini sudah nyaris terlupakan, padahal beliau adalah orang yang punya andil pada wilayah Ragunan dan sekitarnya khususnya pada fase penyebaran Islam. Minimnya sejarah beliau ini dikarenakan para sepuh yang tinggal di sekitar makam sudah banyak yang pindah. Untungnya sejarah yang beliau punya ini masih tersimpan dengan baik di memori beberapa orang yang peduli dengan sejarah seperti salah satu keturunan Pangeran Jaga Raksa. Memang sampai saat ini belum dikaji lebih dalam lagi siapakah sebenarnya dari Syaikhuna Wijaya Sakti, terutama dari sisi nasabnya. Namun secara garis besar, orang yang dikirim untuk tugas-tugas tertentu terutama yang berkaitan dengan penyebaran agama Islam, biasanya orang-orang terpilih dan “istimewa”. Gelar Syaikhuna jelas menunjukkan beliau ini bukan orang sembarangan dalam bidang keagamaan. Gelar seperti ini menunjukkan betapa dalamnya ilmu agama yang dimiliki oleh beliau. Penamaan makamnya yang dilabeli “Keramat” menunjukkan jika beliau ini pada masa hidupnya memiliki beberapa “karomah” yang diberikan oleh Allah, sehingga keberadaan makamnya sering disebut orang “Makam Keramat”. Tidak mudah untuk melabeli seseorang dengan gelar “Keramat” seperti ini, hanya orang-orang tertentu saja yang kiranya bisa disematkan dengan gelar ini, dan mereka itu disebut Waliyullah, termasuk Syaikhuna Wijaya Sakti ini.
Al Fatehah untuk Syaikhuna Wijaya Sakti...
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com
 
close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah