Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774




Allah Subhaanahu wa Ta’ala menciptakan kita untuk beribadah hanya kepada-Nya dan untuk menaati-Nya. Dan tidak mungkin kita dapat beribadah kepada Allah dengan cara yang diridhai-Nya kecuali melalui para rasul yang Allah utus kepada manusia untuk menerangkan kepada mereka perbuatan yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, sehingga mereka dapat melakukannya, serta untuk menerangkan kepada manusia perbuatan yang dibenci Allah sehingga mereka dapat menjauhinya.
Selama 10 abad atau generasi, manusia hidup di atas tauhid (penyembahan kepada Allah), namun setelah ilmu agama dilupakan dan setan terus membisikkan manusia, maka mulailah manusia meninggalkan tauhid dan beralih menyembah selain Allah subhanahu wa Ta’ala.
Ketika itulah, Allah mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam, Beliau mengajak mereka kembali kepada Allah dan hanya menyembah kepada-Nya siang dan malam, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, namun tidak banyak yang mengikutinya, bahkan kebanyakan mereka kafir kepadanya sebagaimana dikisahkan di surat Nuh ayat 5-9. Saat peringatan tidak lagi dihiraukan manusia, maka Allah menenggelamkan mereka dalam banjir yang besar dan menyematkan Nabi Nuh ‘alaihis salam beserta pengikutnya dalam sebuah kapal.
Demikianlah seterusnya, setiap kali manusia meninggalkan beribadah kepada Allah, maka Dia mengutus rasul-rasul-Nya untuk mengingatkan manusia, agar menyembah hanya kepada Allah dan menjauhi thagut (setan dan semua sesembahan selain Allah). Dia berfirman,
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu," maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (Qs. An Nahl: 36)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menguatkan para rasul-Nya dengan mukjizat yang menunjukkan kebenaran mereka.
Nabi Musa ‘aaihis salam diberi mukjizat dengan tongkat yang bisa berubah menjadi ular dengan izin Allah untuk mengalahkan para pesihir ketika itu, dan dengan tongkat itu, ia membelah lautan, sehingga kaumnya dapat melintasinya saat dikejar oleh Fir’aun dan bala tentaranya. Namun ketika Fir’aun dan bala tentaranya melintasinya, laut pun menyatu kembali hingga akhirnya Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam. Kemudian Allah pelihara jasadnya agar menjadi pelajaran untuk generasi yang datang setelahnya, namun sedikit sekali yang mau mengambilnya sebagai pelajaran (lihat Qs. Yunus: 92). Silahkan lihat buktinya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=-rjfpB6Jupk .
Allah Subhaanhu wa Ta’ala juga mengutus Nabi Isa alaihis salam untuk menyeru manusia kepada Tauhid dan hanya menyembah kepada Allah saja. Nabi Isa alaihis salam berkata, "Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidak ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (Qs. Al Maidah: 72)
Allah juga menguatkan Nabi Isa ‘alaihis salam dengan mukjizat untuk mengalahkan para tabib ketika itu. Dengan izin Allah, ia mampu menyembuhkan orang yang buta, menyembuhkan orang yang berkulit sopak, dan bahkan menghidupkan orang yang mati yang tidak mampu dilakukan oleh para tabib mana pun (Lihat Qs. Ali Imran: 49).
Demikian pula Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyeru manusia menyembah kepada Allah saja dan agar mereka menaati-Nya.
Allah juga memperkuat Beliau dengan mukjizat yang tetap dapat disaksikan sepanjang masa, yaitu Al Qur’anul Karim.
Berikut setetes kemukjizatan Al Qur’an dari beberapa sisi, semoga Allah menjadikannya bermanfaat, Allahumma amin.
Kemukjizatan Al Qur’an dari sisi bahasa
Allah menurunkan kitab itu sebagai petunjuk bagi manusia dan sebagai mukjizat yang mengalahkan para Ahli sastra di sepanjang zaman sampai hari Kiamat.
Dr. Muhammad Bakr Ismail berkata, “Allah memilih lafaz-lafaz bahasa Arab yang paling fasihnya, paling mudah di lisan, paling mudah dipahami, paling nikmat didengar telinga, paling kuat pengaruhnya di hati, paling sempurna menyampaikan makna dan kandungan, kemudian menyusunnya secara kokoh seperti bangunan, dan susunannya tidak dapat ditiru oleh ucapan manusia baik dari dekat maupun dari jauh. Hal itu, karena kandungan lafaznya yang mengandung ilham yang menembus jiwa dan merasuk ke dalam hati.” (Dirasat Fii Ulumil Qur’an hal. 328)
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لأقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut kisah yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), "Aku pasti membunuhmu!" Habil menjawab, "Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Maa’idah: 27)
Dalam ayat ini huruf qaaf diulang 10 kali, tetapi pembaca Al Qur’an hampir tidak merasakan pengulangan huruf qaaf ini padahal sifatnya syiddah (kuat), qalqalah (pantulan), jahr (tertahan nafas), dan isti’la (tebal). Ia tidak merasakan kesulitan membacanya, bahkan mudah dan ringan lafaznya. Sekarang bandingkan dengan kalimat ini:
وَلَيْسَ قُرْبَ قَبْرِ حَرْبِ قَبْرُ
Artinya: Tidak ada di dekat kuburan Harb sebuah kuburan.
Kalimat ini sukar diucapkan.
Dari sisi lafaz, banyak sekali saja’ (kesamaan huruf akhirnya) dalam Al Qur’an, misalnya firman Allah Ta’ala,
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (9) وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (10)
“Oleh karena itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.-Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (QS. Adh Dhuha: 9-10)
Huruf akhir kedua ayat tersebut adalah raa.
Dan banyak sekali saja’ dalam Al Qur’an, seperti pada surat Asy Syams, Al Lail, Al Ikhlas, An Naas, dan surat-surat lainnya, di samping maknanya yang begitu jelas dan bijaksana, tidak menggunakan kata-kata yang sulit diucapkan, sejalan dengan tatabahasa Arab, dan tidak menggunakan kata-kata yang gharib (tidak jelas artinya). 
Dengan demikian, Al Qur’an memiliki sastra paling tinggi sehingga tidak dapat tertandingi. Ia menyampaikan maksud ke dalam jiwa manusia dengan susunan kalimat yang paling indah.
Di antara sisi Kemukjizatan Al Qur’an lainnya sehingga membuat orang-orang Arab tidak mampu membawakan ayat yang serupa dengan Al Qur’an adalah karena banyak sisi, di antaranya:
a.    Lafaznya yang sedikit namun mengandung makna yang banyak.
b.    Jelas dan fasih.
c.     Kalimatnya menarik dan di luar kebiasaan, padahal lafaz dan hurufnya biasa digunakan dalam kalimat bangsa Arab.
d.    Pembacanya tidak pernah lelah, pendengarnya tidak pernah bosan, semakin banyak membaca semakin manis dan sejuk dalam jiwa.
e.    Beritanya adalah berita yang sudah diketahui atau belum diketahui. Jika mereka menanyakannya, maka mereka langsung mengetahui kebenarannya, seperti kisah As-habul Kahfi, kisah Nabi Musa dengan Khadhir, keadaan Dzulqarnain, kisah para nabi bersama umatnya, serta kisah generasi-generasi terdahulu.
f.     Memuat pengetahuan yang gaib dan berita peristiwa yang akan terjadi seperti akan menangnya bangsa Romawi setelah mereka dikalahkan (lihat Qs. Ar Rum).
g.    Tidak mampunya para pandai bahasa membuat yang semisal dengan Al Qur’an.
Kemukjizatan Al Qur’an dari sisi pengetahuan modern
Al Qur’an menyebutkan pengetahuan-pengetahuan yang tidak diketahui manusia kecuali setelah abad modern ini sehingga menyebabkan banyak para Cendekiawan yang masuk Islam.
Contohnya adalah Prof. Tajasat Tajasun ketua Ahli Anatomi dan Janin di Universitas Chiang Mai Tailand yang menjadi dekan di jurusan kedokteran.  Ia pernah ditanya oleh Prof. Abdul Majid Az Zandani, “Di manakah tempat rasa di tubuh manusia?” Ia menjawab, “Ada di ujung urat syaraf di kulit. Jika kulit habis terbakar, maka habislah syaraf perasa, sehingga seseorang tidak merasakan perih lagi setelahnya, maka harus ada kulit agar manusia merasakan perihnya.”
Prof. Abdul Majid berkata lagi, “Kapan diketahui pengetahuan seperti ini?”
Prof. Tajasun menjawab, “Belum lama, setelah dibuat alat-alat modern.”
Prof. Abdul Majid berkata, “Akan tetapi Al Qur’an telah lebih dulu memberitakan hal itu sejak 1400 tahun yang lalu. “
Prof. Tajasun balik berkata, “Tidak mungkin! Coba bawa Al Qur’an kepadaku dan tunjukkan pernyataan itu.”
Ia pun membawakan Al Qur’an dan membuka surat An Nisa ayat 56,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Qs. An Nisa’: 56)
Prof. Abdul Majid berkata, “Mungkinkah Muhammad menerima ini dari manusia?”
Prof. Tajasun berkata, “Tidak mungkin, karena manusia ketika itu tidak tahu apa-apa tentang itu, lalu dari mana ia peroleh pengetahuan ini?”
Prof. Abdul Majid menjawab, “Dari sisi Allah, karena dia adalah utusan Allah.”
Prof. Tajasun berkata, “Biarkan saya mempelajari Al Qur’an secara ilmiah berdasarkan pengetahuan modern.”
Setahun kemudian setelah Prof, Tajasun mempelajari Al Qur’an  berdasarkan pengetahuan modern, ia datang untuk menghadiri mukmatar kedokteran ke-8 di Arab Saudi, dan empat hari setelah menyimak pemaparan ilmiyah yang disampaikan para Ahli baik dari kalangan muslim maupun non muslim tentang kemukjizatan Al Qur’an dan As Sunnah secara ilmiyah, maka Prof, Tajasun berdiri sambil berkata,
“Saya seorang spesialis ilmu anatomi dan janin setelah mempelajari ayat Al Qur’an tentang perkembangan janin dan ilmu anatomi menyatakan, bahwa apa yang disebutkan Al Qur’an ternyata tidak diketahui kecuali setelah berkembangnya ilmu pengetahuan modern, padahal di zaman itu pengetahuan tidak sampai kepada hakikat ini. Oleh karena itu, pasti Muhammad telah mendapatkan wahyu dari Allah berupa Al Qur’an ini. Maka dari itu, aku yakin bahwa Muhammad adalah benar-benar utusan Allah, dan sekarang aku nyatakan bahwa diriku masuk Islam, Asyhadu allaailaahaillallah wa anna Muhammadar Rasulullah.”
Kemukjizatan Al Qur’an dari sisi syariat
Al Qur’an memerintahkan tauhid dan melarang perbuatan syirik agar hubungan manusia dengan Penciptanya menjadi baik. Al Qur’an memerintahkan semua akhlak yang mulia dan melarang semua akhlak yang tercela agar hubungan manusia dengan sesamanya menjadi baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Qs. An Nahl: 90)
Ajaran Al Qur’an  begitu agung. Al Qur’an memerintahkan kita memiliki sifat pemaaf, namun tetap memperhatikan agar kejahatan tetap diberikan hukuman yang setimpal agar tidak memunculkan kejahatan yang baru. Al Qur’an memerintahkan agar manusia selalu berbuat baik, sekalipun terhadap orang yang pernah berbuat jahat kepadanya.Al Qur’an mengajarkan manusia agar mereka banyak beribadah kepada Allah, tetapi jangan menjadi rahib yang melupakan hak diri dan orang lain. Al Qur’an memerintahkan manusia berendah hati, namun tidak melupakan harga diri.
Kemukjizatan terpeliharanya Al Qur’an
Al Qur’anul Karim sejak diturunkan dari sisi Allah 14 abad yang lalu tidak mengalami perubahan karena dijaga oleh Allah Azza wa Jalla. Dia berfirman,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Qs. Al Hijr: 9)
Imam Baihaqi (Dalaailun Nubuwwah7/159,160) meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Yahya bin Aktsam, ia berkata, “Khalifah Al Ma’mun memiliki majlis pengkajian, ketika itu masuk ke majlis tersebut seorang Yahudi dengan pakaian yang indah dan memakai wewangian, lalu ia berbicara dengan fasihnya. Saat majlis itu selesai, maka Al Ma’mun memanggilnya dan bertanya, “Apakah engkau orang Israel (Yahudi)?” Ia menjawab, “Ya.” Al Ma’mun berkata, “Masuk Islamlah, agar aku berbuat sesuatu untukmu,” Al Ma’mun menjanjikan sesuatu untuknya. Ia menjawab, “Aku tetap di atas agamaku dan agama nenek moyangku,” maka orang itu pergi.
Setelah berlalu setahun, maka ia datang kembali dalam keadaan telah masuk Islam, lalu ia berbicara tentang fiqih dan berbicara dengan fasihnya. Ketika majlis Al Ma’mun selesai, maka Al Ma’mun memanggilnya dan bertanya, “Bukankah engkau kawan kami yang dulu?” Ia menjawab, “Ya.” “Lalu apa yang menyebabkan kamu masuk Islam,” tanya Al Ma’mun. Ia menjawab, “Setelah aku pergi dari tempatmu, aku mengetes beberapa agama, dan keadaan aku sebagaimanayang engkau lihat adalah orang yang pandai dalam menulis, maka aku coba mendatangi Taurat dan menyalinnya. Aku salin tiga naskah, aku tambahkan dan aku kurangkan, kemudian aku masukkan ke sinagog, lalu Tauratku terjual. Kemudian aku mendatangi Injil dan menyalinnya. Aku salin tiga naskah, aku tambahkan dan aku kurangkan, kemudian aku tawarkan ke gereja, lalu Injilku terjual. Kemudian aku mendatangi Al Qur’an, lalu aku salin tiga naskah; aku tambahkan dan aku kurangkan, kemudian aku tawarkan ke penjual buku, maka mereka menelitinya, dan saat mereka menemukan adanya penambahan dan pengurangan, mereka pun membuangnya dan tidak mau membeli. Dari sana aku pun tahu, bahwa kitab ini adalah kitab yang terpelihara. Inilah sebab yang membuatku masuk Islam.” Yahya bin Aktsam berkata, “Pada tahun itu aku naik haji dan bertemu dengan Sufyan bin Uyaynah, lalu aku sampaikan kisah itu, maka ia berkata, “Sesuai sekali dengan yang disebutkan dalam kitabullah (Al Qur’an),” aku bertanya, “Di ayat berapa?” Ia menjawab, “Yaitu pada firman Allah Ta’ala tentang Taurat dan Injil, “Disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah,” (QS. Al Maidah: 44); mereka mendapat amanah untuk menjaganya, tetapi malah menyia-nyiakannya. Allah Azza wa Jalla juga berfirman, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Adz Dzikr (Al Qur’an), dan Kamilah yang menjaganya.” (QS. Al Hijr: 9); Allah menjaga Al Qur’an untuk kita, sehingga tidak akan terlantar.”
Kebenaran berita yang disampaikan Al Qur’an
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
الم (1) غُلِبَتِ الرُّومُ (2) فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ (3) فِي بِضْعِ سِنِينَ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْ بَعْدُ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ (4) بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (5)
Alif laam Miim--Telah dikalahkan bangsa Romawi,--Di negeri yang terdekat--dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang--Dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,--Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.” (Qs. Ar Ruum: 1-5)
Maksud bangsa “Romawi” adalah Romawi timur yang berpusat di Konstantinopel.
Maksud “yang terdekat” adalah terdekat ke negeri Arab Yaitu Syria dan Palestina sewaktu menjadi jajahan kerajaan Romawi Timur.
Bangsa Romawi adalah satu bangsa yang beragama Nasrani yang mempunyai kitab suci sedang bangsa Persia beragama Majusi, menyembah api dan berhala (musyrik). Kedua bangsa itu saling berperang. Ketika tersiar berita kekalahan bangsa Romawi oleh bangsa Persia, maka kaum musyrik Mekah menyambutnya dengan gembira karena berpihak kepada orang musyrikin Persia. Sedangkan kaum muslimin berduka cita karenanya. Kemudian turunlah ayat di atas, dan ayat yang berikutnya menerangkan bahwa bangsa Romawi setelah kalah itu akan mendapat kemenangan dalam masa beberapa tahun saja. Hal itu benar-benar terjadi. Beberapa tahun sesudah itu menanglah bangsa Romawi dan kalahlah bangsa Persia. Dengan kejadian yang demikian nyatalah kebenaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasul dan kebenaran Al Quran sebagai firman Allah.
Maksud ‘beberapa tahun lagi’ adalah antara tiga sampai sembilan tahun. Waktu antara kekalahan bangsa Romawi (tahun 614-615) dengan kemenangannya (tahun 622 M) adalah kira-kira tujuh tahun (Lihat terjemah Al Qur’an DEPAG Republik Indonesia).
Nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam Taurat dan Injil
Dalam Al Qur’an disebutkan,
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
“Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata, "Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, "Ini adalah sihir yang nyata." (Qs. Ash Shaff: 6)
Dalam Taurat, pada Nasyidul Insyad, pasal 5 paragraf 16 dalam bahasa Ibrani, yang artinya: “Ucapannya adalah ucapan yang paling manis, dialah Muhammad yang agung. Inilah kekasih dan kesayangan-Ku.”
Dalam Injil Yohanes pasal 16 paragraf 7 disebutkan, bahwa Al Masih berkata kepada kawan-kawannya, “Akan tetapi, aku katakan kepada kalian, bahwa lebih baik bagi kalian jika aku pergi, karena jika aku tidak pergi, maka penghibur itu yaitu Farqalith tidak kunjung datang.”
Farqalith dalam bahasa Yunani artinya Muhammad.
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Risalah minal Qalb (Syaikh Wahid Abdussalam Bali), Nubdzah fil Aqidah(Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin), dll.
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com
 
close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah