Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774

https://www.facebook.com/iwan.raraumay
Setelah semalam saya menulis tentang Ummu Ibrahim atau Mariah Al Qibtiah istri Rasulullah SAW yang kemudian menimbulkan beberapa diskusi hangat (bahkan mungkin telah menimbulkan kekesalan sebagian sahabat fb saya karena menganggap saya telah menyerang “individu” yang selama ini mungkin menjadi panutan mereka), kini saya ingin mencoba lagi menulis tema sejarah yang tujuannya untuk meluruskan pemahaman kita akan sejarah itu sendiri (terutama yang menurut saya telah terdistorsi). Tema yang saya suguhkan ini masih berkaitan dengan "BUDAK". Insya Allah dalam setiap penulisan sejarah saya akan menuangkan apa adanya sesuai dengan rujukan yang saya miliki, sehingga nantinya tidak perlulah anda menilai saya telah menjatuhkan kredibilitas seseorang hanya karena berbeda pemikiran, justru karena saya cinta sesama muslim maka setiap muslim yang melakukan kekeliruan pemikiran harus kita ingatkan siapapun dia. 


Berbicara tentang judul diatas mungkin sebagian dari kita sejak masih kecil sudah sering ditanamkan oleh para guru ngaji atau beberapa penceramah bahwa salah satu leluhurnya Rasulullah SAW yaitu Ibunda SITI HAJAR merupakan BUDAK. Bahkan waktu saya kecil, beberapa buku sejarah Nabi sering menggambarkan SITI HAJAR dalam posisi yang benar-benar rendah (seolah kehadirannya tidak begitu penting dan hanya sekilas saja dalam kehidupan Nabi Ibrahim AS). Padahal dari dirinya nanti akan menurunkan seorang Nabi Besar yang bernama Ismail AS. Dari Nabi Ismail AS juga nanti akan menurunkan Nabi Akhir Zaman yaitu Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW. Dari Nabi Ismail AS juga nanti akan berdiri sebuah bangunan Monumental yaitu Kakbah kiblatnya ummat Islam dan munculnya air abadi yaitu ZAM-ZAM. Hijrahnya Siti Hajar bersama Ismail yang bayi nanti juga akan membawa perubahan besar pada kehidupan manusia selanjutnya. Nabi Ismail AS juga merupakan cikal bakal munculnya bangsa Arab. Peristiwa Nabi Ismail AS dan ibunya saat berhijrah juga nanti akan diabadikan pada ibadah haji, peristiwa lainnya yang tidak kalah monumental dengan munculnya peristiwa besar yang nanti diabadikan Allah dalam bentuk perayaan Idul Qurban (Idul Adha). 

Oleh karenanya dengan adanya kesalahfahaman kita akan sejarah SITI HAJAR bukan tidak mungkin kaum Yahudi yang selama ini banyak menentang ajaran Islam akan semakin pongah dan besar kepala karena menganggap Ibu Nabi Ismail AS ini merupakan seorang budak sedangkan Ibu Nabi Ishak AS yang merupakan leluhur Bani Israil merupakan seorang yang memiliki status sosial tinggi. Konyolnya lagi tidak sedikit orang Islam yang percaya dengan informasi seperti ini tanpa mau meneliti bacaan-bacaan yang ada.

Dalam sejarah Islam khususnya SEJARAH NABI-NABI pendapat yang mengatakan SITI HAJAR merupakan BUDAK seolah sudah merupakan “harga mati”. Saya sendiri sejak dulu merasa “risih” dengan pendapat ini, bukan karena saya merendahkan martabat seorang budak, tidak sama sekali ! apalagi sepengetahuan saya didalam sejarah Islam banyak juga dulu yang merupakan budak justru mampu memberikan warna kehidupan pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat seperti misalnya Bilal bin Rabah, Zaid bin Haritsah, Usamah bin Zaid, Tsauban bin Bujdad, Abu Kabsyah, Abu Rafi’, Abu Muwaihibdah, Ma’bur Al Qibti, Fadhalah, Rafi’, Safinah, Barokah Ummu Aiman, Maimunah binti Saad, dan masih banyak lagi yang lainnya. Apa yang saya lakukan semua murni demi mencari sebuah kebenaran. 

Dalam catatan sejarah, sebenarnya kedudukan seorang SITI HAJAR sudah pernah dibahas secara mendetail oleh Ibnu Katsir seorang pakar ilmu tafsir ternama. Dalam bukunya yang telah diterjemahkan oleh Pustaka Azzam (2006 : 179 - 180) dijelaskan bahwa pada suatu saat Nabi Ibrahim AS dan Siti Sarah memasuki sebuah negeri yang rajanya terkenal zalim. Sang raja yang mendengar bahwa ada seorang wanita yang dibawa Nabi Ibrahim AS dan terkenal akan kecantikannya kemudian menjadi tertarik, sehingga raja tersebut pun mengutus pasukannya untuk menanyakan kepada Nabi Ibrahim AS siapa gerangan wanita yang dibawanya itu. Nabi Ibrahim AS sendiri mengatakan kalau Siti Sarah adalah saudara perempuannya. Namun demikian Sarahpun kemudian digiring secara paksa untuk menemui sang raja, tetapi sebelum pergi, Nabi Ibrahim AS dan Siti Sarah melakukan wudhu dan sholat kemudian berdoa agar Allah SWT melindungi kehormatan dirinya dari raja yang kafir itu yang hendak menodai kesucian istri Nabi Ibrahim ini. Keajaiban terjadi, 3 atau 4 kali Siti Sarah dihadapkan kepada raja, Raja Zalim itu selalu berkata kepada pengawalnya, “KALIAN TIDAK MEMBAWAKAN UNTUKKU SESUATU KECUALI SETAN, KEMBALIKAN DIA KEPADA IBRAHIM DAN BERIKAN KEPADA HAJAR”. Pada halaman (2006 : 180 ) juga disebutkan bahwa keajaiban yang terjadi tersebut adalah Allah menutup pandangan mata sang raja terhadap keberadaan Siti Sarah. Keberadaan Siti Sarah dihadapan Raja hanya bisa dilihat oleh Nabi Ibrahim AS. Perlindungan Allah SWT kepada Siti Sarah ini telah dilihat langsung dengan mata kepala Nabi Ibrahim AS. Sehingga semakin menambah ketakwaan dirinya kepada Allah SWT...

Pasca kejadian yang luar biasa ini, raja yang sadar kalau Siti Sarah bukan merupakan wanita sembarangan, pada pertemuan yang terakhir mengatakan (sama seperti yang diatas) (2006 : 179) “KALIAN TIDAK MEMBAWA MANUSIA KEPADAKU, TETAPI MEMBAWA SYAITAN. JADIKANLAH DIA (SARAH) SEBAGAI BUDAK HAJAR”. Selanjutnya Siti Sarah setelah pertemuan ini mendatangi Nabi Ibrahim AS ketika beliau sedang mengerjakan Sholat. Lalu Nabi Ibrahim AS memberikan isyarat dengan tangannya, dan berkata, “bagaimana khabarnya ?”Siti Sarah menjawab, ‘Allah telah menolak tipu daya orang kafir dan aku ditugaskan untuk MENGABDI KEPADA HAJAR”.

Dari penjelasan diatas sudah jelas siapa sebenarnya SITI HAJAR dan bagaimana kedudukannya dihadapan SITI SARAH dan NABI IBRAHIM AS. 

Selain sudah mengetahui bagaimana kedudukan SITI HAJAR, dalam kehidupan NABI IBRAHIM AS dan SITI SARAH kita juga perlu tahu dimana sebenarnya letak negeri serta siapa raja zalim yang dimaksud, ini penting kita ketahui agar nantinya kita bisa mengetahui siapa sesungguhnya orang tua SITI HAJAR. Syaikh Shaffiyyurahman Al-Mubarakfuri Juara I penulisan Sirah Nabawiyah yang berasal dari Universitas Salafiah India dan nasabnya berasal dari Sahabat Ansor yaitu Abu Ayyub Al Ansory, dalam bukunya yang berjudul asli “Ar-Rahiq Al Makhtum Bahtsun Fis Siratin Nabawiyyati A’la Sahibiha Afdhalush Shalati Was Sallam” dan telah diterjemahkan Penerbit Ummul Qura (2013 ; 44) telah menuliskan secara gamblang tentang apa negeri dan siapa raja yang zalim tersebut. Menurut Syekh Shaffiyyudin Nabi Ibrahim AS dalam hijrahnya dari negeri Irak ke Haran atau Harran, termasuk pula ke Palestina, beliau telah menjadikan negeri itu sebagai basis dakwahnya. Nabi Ibrahim AS dalam dakwahnya banyak menyusuri negeri-negeri lainnya. Di Salah satu perjalanan tersebut beliau kemudian bertemu dengan FIR’AUN (RAJA MESIR KUNO). Istri Nabi Ibrahim AS yaitu SITI SARAH turut menemaninya. SITI SARAH merupakan wanita yang sangat cantik. Maka FIR’AUN itu hendak memasang siasat buruk terhadap istri Nabi Ibrahim AS ini. Namun, Siti Sarah berdoa kepada Allah SWT, sehingga Dia membalikan jerat yang dipasang raksasa itu kelehernya sendiri. Akhirnya raja yang zalim itu tahu bahwa SITI SARAH merupakan wanita yang soleha yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Karena itu, FIR’AUN kemudian menghadiahkan “PUTRINYA” yang bernama “HAJAR” untuk menjadi pembantu SITI SARAH, sebagai pengakuan atas keutamaan SARAH atau karena ia takut terhadap siksa Allah, Akhirnya kemudian SITI SARAH pun menikahkan Nabi IBRAHIM AS dengan Hajar. Dalam keterangan Ibnu Katsir yang lainnya (2006 ; 183) Siti Sarah saat mau menikahkan SITI HAJAR dan NABI IBRAHIM AS, beliau menyebut SITI HAJAR dengan panggilan “Ibuku” ini menandakan jika Siti Hajar mempunyai status sosial yang sama sekali tidak berkaitan dengan budak.

Kesimpulan dari penjelasan diatas ini adalah :

1.SITI HAJAR bukanlah BUDAK justru beliau merupakan putri seorang raja Mesir kuno yang bernama Fir’aun
2.SiTI HAJAR adalah Ibu Nabi Ismail AS yang merupakan cikal bakal lahirnya bangsa Arab
3.SITI HAJAR menikah justru atas restu Siti Sarah dan mendapatkan kedudukan yang sama status sosialnya dihadapan Nabi Ibrahim AS
4.Hijrahnya SITI HAJAR bukanlah dikarenakan statusnya yang dianggap sebagai budak, namun itu semata-mata perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS melalui peristiwa cemburunya Siti Sarah karena Hamilnya Siti Hajar.

SUMBER : 

1.Ibnu Katsir (Terj). Kisah Para Nabi, Jakarta : Penerbit Pustaka Azzam, 2006, hlm 179 – 183
2.Syekh Shafiyyudin Al Mubarakfuri. Sirah Nabawiyah, Jakarta : Penerrbit Ummul Qura, 2013, hlm 44 (juga terdapat di catatan kaki No 4)

Wallahu A'lam Bisshowwab.....
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com