Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774

Makam si Pitung di daerah Bandengan Utara, Jakarta Utara

Makam si Pitung di daerah Bandengan Utara, Jakarta Utara, menyisakan cerita rakyat si Pitung sebagai pengamal Ilmu Rawa Rontek. Padahal Pitung adalah organisasi yang dibentuk Haji Naipin pada 1880, yang juga pengamal tarekat. Bukan Ilmu Rawa Rontek menurut Islam tidak sesuai? Baca tuntas ulasan sejarah si Pitung ini.

Alamuslim.com - Pitung atau Pituan Pitulung adalah sebuah organisasi yang bertujuan melakukan jihad fisabilillah di bumi Jayakarta/Jakarta. Gerakan mereka dibentuk pada tahun 1880 oleh KH Naipin (Ratu Bagus Arifin) yang berasal dari Tenabang. Di bawah bimbingan para ulama-ulama Jayakarta, gerakan Pitung menjadi momok besar bagi Pemerintah Batavia.

Dalam perjuangan sudah tentu mereka itu dibekali berbagai pengetahuan dan ketrampilan untuk menghadapi penjajah dan antek-anteknya, dari mulai pengetahuan strategi, politik, militer, keorganisasian, diplomasi, serta pengetahuan agama dan sudah tentu ketrampilan bela diri yang pada masa itu memang wajib dipelajari.

Pitung adalah sebuah gerakan “cerdas” mengingat para anggotanya adalah santri-santri terbaik dari Pesantren Haji Naipin. Mereka adalah kader-kader terbaik yang memang sudah disiapkan para pejuang-pejuang Jayakarta yang berada di balik sosok KH Naipin.

Secara silsilah, sebagian besar anggota Pitung adalah keturunan mujahid-mujahid Jayakarta masa lalu yang tersebar di beberapa wilayah. Para pejuang-pejuang Jayakarta yang namanya tertera di kitab Al-Fatawi itu terdapat di daerah-daerah seperti Jipang Pulorogo (Slipi, Palmerah, Kemandoran, Rawa Belong, Kemañggisan dan sekitarnya), Cengkareng, Jelambar, Tanah Abang, Kayu Putih, Tangerang, Kampung Bandan, Angke, Pekojan, Jembatan Lima, Ancol, Jatinegara Kaum, dan lain-lain.

Nama besar Pitung pada akhir-akhir abad ke 19 sangat menggetarkan penjajah. Jangan dikira gerakan mereka itu dianggap biasa, karena sekelas Snouck Horgronye saja sampai ikut berkomentar dengan nada kesal karena sulitnya Pitung ditundukkan. Artinya, gerakan Pitung benar-benar diperhitungkan oleh penjajah pada waktu itu.

Sebagai sebuah organisasi, sudah tentu dalam perjuangannya Pitung atau Pituan Pitulung mendapatkan banyak halangan dan rintangan. Di antara sekian masalah yang muncul adalah fitnah dan intimidasi yang dilakukan penjajah yang bekerjasama dengan tuan tanah cina, centeng-centeng laknat dan marsose.

Fitnah terbesar adalah ketika mereka dituduh sebagai perampok. Fitnah yang juga tidak kalah kejinya Pitung ditusuh oleh penjajah menggunakan “Ilmu Kesaktian” dalam melakukan aksi kriminal. Ironisnya kita sering terjebak dengan pendapat yang terakhir ini. Seolah Pitung hanya merupakan sosok pendekar semata dengan nilai plus kesaktiannya, padahal di balik itu semua mereka adalah pejuang cerdas yang memiliki wawasan luas serta sangat faham dengan informasi yang berkembang saat itu. Apalagi mereka dan guru-gurunya mempunyai jaringan perjuangan yang kuat dengan para pejuang wilayah lain, namun lagi-lagi area perjuangan mereka hanya dianggap “secuil” bagi penjajah dan antek-anteknya.

Sampai saat ini cerita yang paling sering berkembang tentang Pitung adalah tentang “kesaktian yang mandraguna” ketimbang kecerdasan-kecerdasan mereka dalam perjuangan. Banyak yang lupa kalau Pitung ini telah berhasil melakukan penyadaran-penyadaran kepada rakyat agar berani melawan penjajah.

Bahkan Pitung juga berhasil “mengunci” ambisi para tuan tanah Cina untuk menguasai Jayakarta secara menyeluruh. Mereka juga berhasil melakukan konsolidasi dengan keturunan (trah) pejuang yang ada di Jakarta.

Jadi jelas Pitung adalah gerakan yang memiliki cakupan luas, otak dan kemampuan mereka jelas tidak hanya diperuntukkan untuk satu kemampuan saja, sehingga sangatlah ironis bila Pitung hanya diidentikkan dengan kesaktian belaka.

Salah satu yang paling sering dibahas adalah tentang ilmu yang dimiliki Pitung, yang menurut sebagian orang adalah rawe rontek. Tidak ada yang tahu persis, mengapa hingga saat ini banyak yang percaya jika Pitung merupakan penganut ilmu yang kontroversial ini. Bagi Anda yang belum tahu tentang ilmu Rawe Rontek ini, silahkan tonton film Jaka Sembung yang ditulis oleh Djair Warni dan diperankan oleh Barry Prima itu.

Di beberapa daerah Indonesia, Ilmu Rawe Rontek ini memang ditengarai ada dan benar-benar nyata. Namun kalau itu dikaitkan dengan Pitung yang guru-gurunya ulama semua itu, rasa-rasanya perlu dikaji kembali pendapat yang mengatakan Pitung menganut ilmu Rawe Rontek.

Ilmu Rawa Rontek adalah ilmu yang “diindikasikan” beraliran hitam, karena ilmu ini sifatnya bisa “menangguhkan” kematian? Betapapun badan sang pendekar dipotong-potong menjadi beberapa bagian misalnya, namun jika penangkalnya sudah diperoleh, ia bisa hidup kembali seperti sedia kala.

Pernah ada cerita di sebuah kampung hadirnya seorang jagoan yang dibantai ramai-ramai oleh jawara lain karena masalah pribadi. Si Jagoan yang dibantai itu setelah tewas tubuhnya dilempar ke sungai Ciliwung. Anehnya keesokan hari, si Jagoan yang tewas itu sudah nongol dengan kondisi segar bugar.

Cerita Rakyat si Pitung 


Menurut beberapa orang, Ilmu Rawe Rontek sebenarnya memang ada. Hanya saja untuk memperolehnya, diperlukan banyak syarat-syarat dan ritual yang berat. Bagaimana bentuk amalan atau bacaan serta lelaku untuk memperoleh ilmu Rawe Rontek tersebut?

Menurut beberapa saksi, bacaan yang ada memang bercampur dengan bahasa-bahasa zaman dahulu, tapi biasanya diujung kalimat ada penutup kalimat tauhid. Nah loh? Kalau tidak sanggup memenuhi lakunya, bisa berakibat fatal.

Konon, mereka yang menganut ilmu ini bawaannya “panas’ dan “mudah marah”. Sebagian kalangan menyebut Ilmu Rawe Rontek tergolong “jahat” karena di dalamnya ada beberapa ungkapan yang menunjukkan “seolah-olah” kita adalah “Tuhan”.

Ilmu ini jika sudah masuk dalam ”taraf sempurna” memang luar biasa efeknya jika digunakan. Sehingga tidak mengherankan pada era-era tahun 50-an, kabarnya banyak para jawara besar di Pasar Senen Jakarta memburu ilmu ini hingga ke beberapa daerah pedalaman di Indonesia.

Ilmu ini memang “hebat”, tapi pada akhirnya banyak orang bernasib tidak baik di akhir hidupnya. Di hari tua bahkan banyak yang menderita.

Lantas bagaimana dengan Pitung? (Dalam hal ini mungkin yang dimaksud adalah Ratu Bagus Muhammad Ali Nitkusuma yang merupakan dedengkot Pitung). Apa benar beliau menganut Ilmu Rawe Rontek itu? Apa benar kalau dedengkot Pitung ini penganut Rawe Rontek “Putih” seperti yang dikatakan beberapa orang tua?

Ratu Bagus Muhammad Ali ini dalam hidupnya belajar agama, ilmu silat serta tarekat kepada KH Haji Naipin (Ratu Bagus Arifin). Kalau Ilmu Rawa Rontek dikaitkan dengan ilmu tarekat, kok aneh ya?

Mengapa? Karena pada masa lalu para penganut tarekat ketika berjuang banyak yang gugur syahid di medan perang dan bahkan tertembak, misalnya seperti Ji’ih, atau KH Wasit Cilegon. Kalaupun ada amalan atau zikir di dalam tarekat yang menyebabkan Ratu Bagus Muhammad Ali, Ratu Bagus Muhammad Roji’ih dan kelima rekannya tidak mempan ditembak, itu semata-mata karena izin Allah, bukan karena mereka menganut Ilmu Rawe Rontek ataupun memakai jimat-jimat.

Lagipula tarekat itu kan tujuannya bukan untuk mencari “kekebalan” atau “keduniawian”. Tarekat itu justru cara kita untuk mendekatkan diri dengan cara “khusus” yang prakteknya di bawah bimbingan para mursyid. Masak iya para mursyid mengarahkan muridnya untuk mendalami ilmu hitam, logikanya dimana?

Kalaupun nanti ada, “kelebihan” yang dmiliki anggota Pitung itu adalah “bonus" yang diberikan Allah karena keistiqomahan penganutnya. Kelebihan yang diperoleh itu atas izin Allah karena mereka itu memang hamba-hamba yang soleh dan mujahid. Kelebihan-kelebihan yang di luar kebiasaan itu dalam taraf wali disebut karomah, dalam taraf orang soleh dan orang-orang yang dikehendaki Allah itu adalah ma'unah, sedangkan rawe rontek ini justru cenderung istidraj yang banyak diberikan untuk orang fasiq dan kafir.

Sebagian leluhur Ratu Bagus Muhammad Ali dalam sejarahnya banyak yang gugur tertembak dalam jihad fi sabillah. Ini semakin menegaskan kalau di dalam darah beliau tidak terdapat “gen” Ilmu Rawe Rontek.

Kalaupun Muhammad Ali badannya dipotong-potong para pembunuh bayaran laknatullah dan marsose biadab, itu bukan karena beliau menganut Ilmu Rawe Rontek. Dipotong-potongnya tubuh dedengkot Pitung ini adalah demi untuk menghilangkan sejarahnya. Penjajah tahu, jika jenazah beliau dimakamkan pada satu tempat, maka akan banyak yang menziarahinya, sehingga pada akhirnya bisa membangkitkan perlawanan kembali.

Penjajah juga tahu bahwa tradisi ziarah pada masyarakat Betawi itu sering menimbulkan perlawanan kepada penjajah dan tuan tanah cina. Biarpun penjajah Belanda ini berasal dari Eropa, kepercayaan terhadap budaya lokal setempat masih mereka anggap “suci”, terutama terhadap keberadaan makam-makam yang ada. Apalagi negeri ini juga masih kental dengan budaya-budaya yang “agak” mirip dengan budaya kita.

Jangan dikira tradisi ziarah kubur tidak berpengaruh pada masyarakat Betawi pada waktu itu. Perlu juga diketahui, setelah jenazahnya dimutilasi dengan cara biadab, sebagian tubuh Muhammad Ali masih sempat diselamatkan oleh keluarga besarnya dan kemudian sebagian tubuh itu dimakamkan di daerah Bandengan Utara, dekat masjid Kampung Baru Jakarta Utara.

Dalam kondisi seperti ini, cerita sudah selesai, tidak ada lagi istilah Pitung bangkit dari kubur. Toh buktinya tubuh Muhammad Ali setelah ditembak, dimutilasi, ia tidak hidup lagi. Padahal tubuhnya juga konon menyentuh tanah yang merupakan sarat dari Ilmu Rawe Rontek. Sekali lagi ini membuktikan jika beliau memang bukan penganut Ilmu Rawa Rontek..

Kalau ada yang mengatakan Pitung bangkit dari kubur, itu maksudnya Pitung-pitung lain yang masih berjuang. Bukankah anggota Pitung ada tujuh, seperti kH Ahmad Syar'i dan lima Pitung lainnya yang tersisa?

Jadi Pitung, khususnya Ratu Bagus Muhammad Ali, bukanlah penganut Rawe Rontek. Tapi beliau adalah penganut Islam yang kebetulan mendalami ilmu tarekat kepada para ulama saat itu. Dan secara takdir, beliau juga diberikan beberapa kelebihan oleh Allah. Namun pada waktunya, jika memang ajal menjemput, maka syahidlah beliau.

Semoga ini bisa menjadi pencerah buat kita semua, bahwa Pitung adalah pejuang murni yang menganut syariat Islam tanpa ditumpangi dengan ilmu-ilmu yang aneh yang justru tidak sesuai dengan syariat. Guru-gurunya adalah ulama semua. Ajarannya juga sesuai dengan ajaran Majelis Wali Agung dan Fattahillah yang menganut paham ahlussunnah wal jama’ah. (alamuslim.com)

Demikian ini, kita paham bahwa cerita rakyat si Pitung penuh dengan misteri, sebagaimana misteri makan si Pitung itu. Jika si Pitung wafat, bukankah sama saja menyebutnya sebagai pengamal Ilmu Rawa Rontek "Gagal"?
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com