Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774


Dahulu rumah ini adalah markas besar Mujahidin Jayakarta di Front Barat. Rumah atau wisma ini dinamakan rumah Aria Jipang karena yang mendirikan adalah keluarga besar Al Hajj Aria Jipang atau Aria Penangsang dari Kesultanan Demak Bintoro. Keluarga besar Al Hajj Aria Jipang dalam catatan kitab Al Fatawi telah berada di Jayakarta sejak tahun 1540 Masehi. Salah satu bentuk peninggalan Wangsa ini adalah dengan adanya rumah Jipang. Nama Jipang sendiri diambil dari wilayah kekuasaan Aria Penangsang yang menjadi Adipati Jipang Panolan yang sekarang berada di daerah Cepu.

Rumah ini begitu sangat bersejarah sampai-sampai kronologisnya begitu lengkap hingga tahun 1945. Rumah ini pada masa kemerdekaan bahkan sempat dijadikan sebagai markas perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan RI.

Selama ini orang mengira kalau rumah Pitung yang asli ada di Marunda, padahal rumah tersebut milik Haji Syamsudin yang pernah didatangi oleh 7 orang anggota Pitung. Pituan Pitulung datang untuk memberikan peringatan kepada Haji Syamsudin yang sudah berbuat kurang baik terhadap rakyat dan seorang Kyai yang bernama KYAI/GURU MUSLIM dari Bekasi (makam beliau masih dalam pelacakan).

Rumah Jipang ini posisinya berada di gedung Kompas Gramedia Palmerah Jakarta Barat. Sayangnya keberadaan rumah tersebut sudah tidak ada. KOMPAS GRAMEDIA membeli situs sejarah ini dari kluarga Han Tju Bu yang notabenenya sebenarnya bukan pemilik asli. Justru pemilik asli rumah ini banyak keturunan dari Aria Jipang dan ironisnya mereka yang seharusnya menjadi pemilik rumah ini malah jadi tersingkir. Mereka tersingkir ke beberapa wilayah pinggiran Jakarta. pada masa lalu keturunan Aria Jipang itu sering dipaksa oleh pemilik rumah ini agar pindah, tentu si pemilik rumah mendapatkan bantuan dari penjajah dan centeng-centeng bayaran......pemilik palsu rumah ini dahulunya ternyata memang banyak didukung oleh para Tuan Tanah China dan pemerintah kolonial.

KIitab Al Fatawi mencatat, berapa kali rumah ini berhasil direbut penjajah namun demikian keluarga besar Pituan Pitulung juga pernah berapa kali berhasil merebutnya kembali, hingga pada tahun 1959 rumah ini kembali diambil paksa oleh PKI dan memberikannya kepada keluarga Han Tju Bu hingga akhirnya Kompas pun membelinya.

Tahun 1980 beberapa makam di rumah Jipang ini kemudian dipindah di TPU Grogol Kemanggisan termasuk makam Pangeran Jidar Nitikusuma, Pangeran Ainal Alyasa, Ratu Ayu Suriansah yang merupakan leluhur dedengkot Pitung yaitu Ratu Bagus Muhammad Ali Nitikusuma. Alhamdulillah posisi makam tersebut sudah saya temukan namun sayangnya sudah tertindih makam makam lain.

Tahun 1996 rumah Jipang ini akhirnya dirubuhkan dan berganti menjadi bangunan Kompas Gramedia....hilanglah saksi bisu sejarah orang Jakarta...Kalaupun sekarang ada bangunan yang mirip rumah Jipang dan dijadikan "rumah sejarah" ??? Jakarta, itu tidak bisa menggantikan rumah Jipang yang sesungguhnya.

Ironis....!
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com