Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774

بسم الله الرحمن الرحيم
Hasil gambar untuk ‫المدخل إلي علم الفقه‬‎
Pengantar Ilmu Fiqih (3)
Segala puji bagi Allah Rabbul 'alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba'du:
Berikut lanjutan pengantar ilmu fiqih yang perlu kita ketahui sebelum belajar fiqih, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.
8. Imam Madzhab Yang Empat
a. Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit
Beliau lahir pada tahun 80 H dan wafat tahun 150 H. Beliau termasuk ulama besar dalam bidang fiqih. Para ahli sejarah menyatakan, bahwa ia pernah melihat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, sehingga statusnya adalah tabi’in karena melihat sahabat, namun tidak mendengar riwayat darinya.
Abu Hanifah termasuk ulama lulusan madrasah ra’yu, meskipun begitu Beliau meriwayatkan beberapa hadits, dimana hadits-hadits yang diriwayatkannya terhimpun dalam satu jilid dengan nama Musnad Abu Hanifah, namun hanya memuat beberapa hadits saja.
Abu Hanifah adalah imam dalam masalah fiqih sampai-sampai Imam Syafi’i rahimahullah berkata,
اَلنَّاسُ عِيَالٌ عَلَى أَبِي حَنِيْفَةَ فِي الْفِقْهِ
“Manusia sudah ditanggung fiqihnya oleh Abu Hanifah.”
Abu Ashim An Nabil berkata, “Abu Hanifah disebut dengan Al Watad (pasak), karena banyak shalat yang dilakukannya.”
Imam Malik pernah ditanya, “Pernahkah engkau melihat Abu Hanifah? Ia menjawab, “Ya. Aku melihatnya sebagai seorang yang jika dia berbicara kepadamu tentang tiang ini bisa dijadikannya emas, tentu dia mampu menghadirkan alasan-alasannya.”
Ibnul Mubarak berkata, “Abu Hanifah adalah orang yang paling mengerti fiqih.”
Di antara murid Imam Abu Hanifah adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim (w. 128 H) dan Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani (w. 189 H).
Fiqih Abu Hanifah banyak dibangun di atas ra’yu. Hal ini karena keterbatasan hadits sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya.
Syaikh M. bin Umar Bazmul berkata, “Saya sempat menemukan karena sering membuka dan meneliti kitab-kitab fiqih Hanafi, bahwa kitab-kitab tersebut mengandung ucapan-ucapan para sahabat dan para tabi’in yang tinggal di Kufah. Pendapat-pendapat Abu Hanifah pada umumnya didasari pendapat Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu atau Ali bin Abi Thalib, atau para imam dari kalangan tabi’in seperti Ibrahim An Nakha’i dan lainnya rahimahumullah.”
b. Malik bin Anas Al Ashbahi
Imam Malik lahir pada tahun 93 H dan wafat pada tahun 179 H. Beliau dikenal sebagai imam Daril hijrah (Imam kota Madinah).
Ibnu Uyaynah pernah ditanya, “Siapakah orang alim di kota Madinah?” Ia menjawab, “Malik bin Anas.”
Di antara karya Beliau yang masyhur adalah Al Mudawwanahdan Al Muwaththa.
Ibnu Mahdiy berkata, “Aku belum pernah melihat orang yang lebih berwibawa dan lebih sempurna akalnya dibanding Malik, serta lebih bertakwa daripada beliau.”
Di antara murid Beliau adalah Abdurrahman bin Al Qasim (w. 191 H) dan Abdullah bin Wahb bin Muslim (w. 197 H).
Fiqih Imam Malik banyak mengikuti hadits, atsar, dan amal penduduk Madinah.
Imam Malik berfatwa dan duduk memberikan faedah ilmu ketika berusia 21 tahun, ia berkata, “Aku tidaklah berfatwa sehingga 70 orang menyatakan bahwa diriku layak untuk itu.”
Imam Syafi’i berkata, “Jika disebut ulama, maka bintangnya adalah Malik.”
c. Muhammad bin Idris Asy Syaf’i
Beliau lahir di Gaza-Palestina pada tahun 150 H, dan wafat pada tahun 204 H di Mesir.
Beliau hapal Al Qur’an pada usia 7 tahun, hapal kitab Al Muwaththa pada usia 10 tahun, dan gurunya Muslim bin Khalid Az Zanji mengizinkannya untuk berfatwa pada usia 15 tahun.
Beliau mengadakan rihlah (safar) untuk menuntut ilmu ke Makkah, Madinah, dan Baghdad.
Beliau yang pertama meletakkan dasar ilmu Ushul Fiqih dalam kitabnya Ar Risalah, dan menyusun kitab dalam masalah fiqih dengan nama ‘Al Umm’ yang dibangun di atas dalil.
Kitab Al Umm ini diriwayatkan oleh muridnya Ar Rabi bin Sulaiman Al Muradiy (w. 270 H), dan diringkas oleh muridnya juga, yaitu Abu Ibrahim Ismail Al Muzzanniy (w. 264 H).
Ar Rabi bin Sulaiman berkata, “Syafi’i membagi malam ke beberapa bagian; sepertiga pertama, ia gunakan untuk menulis, sepertiga kedua untuk shalat (malam), dan sepertiga ketiga untuk tidur.”
Ibnu Uyaynah berkata, “Syafi’i adalah orang terbaik pada zamannya.”
Imam Syaf’i banyak mengambil fiqih dari Imam Malik. Beliau sempat mengadakan perjalanan ke beberapa negeri, seperti Irak dan lainnya, dan bertemu dengan Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani (w. 189 H) murid Imam Abu Hanifah.
Di antara karya Imam Syaf’i lainnya di samping Al Umm dan Ar Risalah adalah kitab ‘Jima’ul Ilmi’ dan Musnad Asy Syafi’i yang dikeluarkan oleh Abu Ya’qub Al Ashamm dari kitab-kitab karya Imam Syafi’i.
d. Ahmad bin Muhammad bin Hanbal
Beliau lahir pada tahun 164 H dan wafat pada tahun 241 H. Beliau adalah murid Imam Syaf’i rahimahullah. Beliau dikenal dalam pencariannya terhadap hadits dan sangat mengikuti hadits dan atsar.
Fiqih Beliau merupakan ringkasan dari fiqih Syafi’i, Malik, dan Abu Hanifah rahimahumullah.
Imam Ahmad dikenal sebagai Imam Ahlissunnah, yaitu ketika Allah meneguhkan pendiriannya saat terjadi ujian tentang masalah Al Qur’an di masa pemerintahan Al Ma’mun.
Di antara murid Beliau adalah anaknya, yaitu Abdullah (w. 290 H) dan Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani atau biasa dikenal dengan Al Atsram (w. 273 H).
Ibnul Jauziy berkata, “Ahmad mengelilingi dunia dua kali untuk mengumpulkan Al Musnad.”
Ar Rabi berkata, “Syafi’i berkata kepada kami, “Ahmad adalah imam dalam delapan hal; imam dalam bidang hadits, imam dalam fiqih, imam dalam bahasa, imam dalam hal Al Qur’an, imam dalam hal kemiskinan, imam dalam hal zuhud, imam dalam hal wara, dan imam dalam hal As Sunnah.”
Syafi’i berkata, “Wahai Abu Abdillah, jika ada hadits shahih pada dirimu maka sampaikanlah kepada kami hingga kami merujuk kepadanya, engkau lebih tahu tentang hadits-hadits shahih daripada kami.”
Di antara karya Beliau adalah Al Musnad, Al Asyribah, Ar Radd alaz Zanadiqah wal Jahmiyyah, As Su’aalaat, dan Al Ilal wa Ma’rifatur Rijal.
9. Aqidah Imam Yang Empat
Aqidah Imam yang empat adalah sama, yaitu Aqidah Ahlusssunnah wal Jamaa’ah. Hal ini tampak jelas dari pernyataan-pernyataan mereka yang menyuruh mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dan dari pernyataan-pernyataan mereka yang terkait dengan akidah di antaranya:
Imam Abu Hanifah rahimahullah pernah ditanya,
"Termasuk kelompok manakah engkau?"
Ia menjawab, "Aku termasuk mereka yang tidak mencela kaum salaf, beriman kepada takdir, dan tidak mengkafirkan salah seorang kaum muslimin karena dosa yang dilakukannya." (Al Bidayah wan Nihayah9/336)
Pernyataan Imam Abu Hanifah ini merupakan bukti bahwa Beliau termasuk Ahlussunnah wal Jamaah, dan bahwa Beliau berlepas diri dari kelompok yang mencela para sahabat seperti Syiah, demikian pula  Beliau berlepas diri dari kaum Qadariyyah yang mengingkari takdir, serta berlepas diri dari kaum Khawarij yang mengkafirkan kaum muslimin karena dosa besar.
Abu Hanifah juga pernah berkata, “Barang siapa yang menyatakan aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi, maka dia telah kufur, karena Allah Ta’ala berfirman,
 الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى
“Allah Ar Rahman bersemayam di atas Arsyi-Nya.”(Qs. Thaha: 5)
Sedangkan arsyi-Nya di atas langit yang tujuh.”
Ibnu Abdil Bar meriwayatkan dalam At Tamhid dengan isnadnya dari Imam Malik, ia berkata, “Sesungguhnya Allah di atas langit, ilmu-Nya di segala tempat, tidak ada tempat yang luput dari ilmu-Nya.”
Suatu ketika Imam Malik ditanya, “Allah Ar Rahman bersemayam di atas Arsyi, bagaimanakah bersemayam itu?” Beliau menjawab, “Bersemayam itu diketahui artinya, kaifiyatnya majhul (tidak diketahui), dan pertanyaanmu ini adalah bid’ah, dan menurutku engkau adalah orang buruk.”
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Syafi’i, ia berkata, “Berbicara tentang As Sunnah yang aku berada di atasnya, dan kawan-kawan kami dari kalangan Ahli hadits juga berada di atasnya, dan yang aku ambil riwayat daripadanya seperti Sufyan, Malik, dan lainnya adalah mengakui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, Allah Ta’ala di atas Arsyi-Nya di atas langit. Mendekat kepada makhluk sesuai yang Dia kehendaki, dan bahwa Allah turun ke langit dunia sebagaimana yang Dia kehendaki.”
Imam Ahmad dalam kitab Ar Radd alal Jahmiyyah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Khallal dari jalan anaknya Abdullah berkata, “Bab penjelasan tentang hal yang diingkari kaum Jahmiyyah bahwa Allah Ta’ala di atas Arsyi” Allah Ta’ala berfirman,
  الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى
“Allah Ar Rahman bersemayam di atas Arsyi-Nya.”(Qs. Thaha: 5)
Kami katakan kepada mereka, “Mengapa kalian mengingkari Allah Ta’ala di atas Arsyi, padahal Dia berfirman,
 الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى
“Allah Ar Rahman bersemayam di atas Arsyi-Nya.”(Qs. Thaha: 5)?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
*مِنْ رَحْمَةِ اللهِ بِعِبَادِهِ أَنَّ الْأَئِمَةَ الَّذِيْنَ لَهُمْ فِي الْأُمَّةِ لِسَانُ صِدْقٍ كَالْأَئِمَةِ الْأَرْبَعَةِ* .. *كَانُوْا مُتَّفِقِيْنَ عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ السَّلَفُ مِنْ أَنَّ اللهَ يُرَى فِي الْآخِرَةِ، وَأَنَّ الْقُرْآنَ كَلاَمُ اللهِ غَيْرَ مَخْلُوْقٍ*))
"Termasuk rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah bahwa para imam yang memiliki lisan yang jujur di tengah-tengah umat seperti imam yang empat; mereka semua sepakat sebagaimana generasi salaf (terdahulu) sepakat, yaitu bahwa Allah dapat dilihat di akhirat nanti,  dan bahwa Al Quran adalah firman Allah; bukan makhluk.” (Kitabul Iman hal. 352)
Bersambung…
Wallahu a’lam wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraji’: Al Ushul min Ilmil Ushul (M. bin Shalih Al Utsaimin), Muqaddimah fi Ilmil Fiqh (M. bin Umar Bazmul), Al Wajiz Fi Ushulil Fiqh (Dr. Abdul Karim Zaidan), Madkhal Ilal Fiqhil Islami (Dr. Amir bin Umar Bahjat),   https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=100894 , https://islamqa.info/ar/21420 , http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=107461dll.
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com
 
close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah