Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774

sejarah jenderal soedirman

Perjuangan Jenderal Soedirman dipenuhi dengan semangat "Allahu Akbar" dalam biografi-biografinya. Jenderal Soedirman yang wafat pada usia 34 tahun pada tahun 1950 itu adalah sosok kiai yang rajin ngaji.

Alamuslim.com - Jenderal yang satu ini, ‘merajai’ seluruh kota-kota di Indonesia. Tengok nama jalan paling besar dan paling penting di kota-kota Indonesia? Dua pertiga dari itu diberi nama ‘Jalan Jenderal Sudirman’. Namanya mahsyur dari ujung ke ujung. Seorang pahlawan yang hidup mati berperang melawan penjajah Belanda.

Soedirman kecil adalah anak yang taat agama dan senantiasa menegakkan shalat. Dia dipercaya untuk mengumandangkan adzan dan iqamat. Ilmu agamanya mendalam, bahkan teman-temannya pun sering memanggil beliau ‘Haji’–padahal dia belum naik haji. Dia aktif dalam kepanduan Hizbhul Wathan Muhammadiyah dan juga pernah jadi guru di sekolah Muhammadiyah, sebelum masuk militer.

Wah, tak disangka, ‘Pak Guru’ Soedirman, besok lusa memimpin perang gerilya melawan Belanda. Di kamusnya, tidak ada kata mengalah pada penjajah. Jenderal Soedirman dikukuhkan sebagai panglima besar TKR pada tanggal 18 Desember 1945. Usianya baru 29 tahun saat itu.

Sejarah Heroisme "Takbir" Perjuangan Kiai Jenderal Soedirman


Adalah Jenderal Soedirman yang mengirim Nasution untuk menumpas pengkhianatan Muso (pemberontakan komunis tahun 1948). Repot sekali memang jaman itu. Saat kita masih menghadapi Belanda, eh, ada yang menikam dari belakang. Bukannya bahu-membahu melawan penjajah, malah berkhianat.

Baru beres urusan komunis pada Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militernya hendak menguasai kembali sepenuhnya Indonesia. Sejak saat itu dan karen tidak terima dengan ultimatum penjajah, Jenderal Soedirman melancarkan perang gerilya yang akan terus dikenang.

Dalam kondisi sakit TBC, dia keluar masuk hutan melawan serdadu Belanda. Bahu-membahu bersama rakyat, tentara, santri, perlawanan terus dilakukan. Antum bisa membaca kisah ini lebih lengkap di buku-buku sejarah.

Jenderal Soedirman wafat di usia yang sangat muda pada tahun 1950 setelah Belanda mengakui eksistensi Indonesia. Beliau wafat di usia 34 tahun. Tapi jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, tidak terbilang.

Anak muda yang rajin mengikuti pengajian itu –para sesepuh kampung Kauman Yogyakarta menyaksikannya, wafat dengan diantar ribuan warga. Ada banyak catatan yang menunjukkan betapa kader Muhammadiyah murid KH Hasyim Asy'ari yang satu ini, rajin mengutip Al-Qur’an ketika menggelorakan semangat perlawanan pasukannya. Bagi ‘Pak Guru’ Soedirman: “Hidup mulia atau mati syahid”. Berdiri di depan dia, memimpin perlawanan, meneriakkan takbir ke udara.

Kenanglah kejadian tahun 1946 ketika "Pak Guru" Soedirman mengunjungi laskar Hisbullah Sabilillah Surakarta yang sedang mempersiapkan kembali maju ke medan perang. Saat diadakan pertemuan di Surakarta itu, Pak Guru Sudirman mengawali kata sambutannya dengan melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, Ash-Shaf ayat 10-12 yang kemudian diterjemahkannya sendiri,

"Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang akan menyelamatkanmu dari siksa yang pedih. Yaitu, kamu yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu… dstnya…”

Sekali lagi, inilah bukti tak terbantahkan bahwa teriakan takbir, ajaran agama Islam, yang harusnya tidak dipenuhi dengan kebencian sejak dari hati. Tidak seperti teriakan para teroris itu. Bacalah sejarah bangsa ini, kita akan mengetahui, takbir adalah pengobar semangat tiada tara melawan penjajahan. (alamuslim.com)

Kita bisa menyimpulkan, perjuangan jenderal Soedirman yang dipenuhi dengan teriakan takbir "Allahu Akbar" itu adalah buat dari belajarnya kepada KH Hasyim Asy'ari. Ya, jenderal Soedirman adalah santri yang jadi kiai. 
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com
 
close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah