Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774

cara memakmurkan masjid dan strategi memakmurkan masjid

Ada banyak cara memakmurkan masjid dan keutamaan memakmurkan masjid. Namun kegiatan memakmurkan masjid di kalangan umat Islam Indonesia belum banyak dilakukan. Padahal, hadits qudsi tentang memakmurkan masjid sangat masyhur. 

Alamuslim.com - Terkadang juga, ini anehnya, kita temukan di suatu kampung yang mayoritasnya muslim, namun tidak ada masjid di sana. Masing-masing penduduknya sibuk mengurus dunia lupa dengan akhirat, padahal membangun masjid di suatu kampung hukumnya fardhu kifayah.

Siti Aisyah radhiyallahu 'anha berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dibangun masjid-masjid di kampung-kampung, dan agar dibersihkan, serta diberikan wewangian.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al Albani)

Namun, jangan membangun masjid berdampingan karena yang demikian akan memecah belah kaum muslim.

Membersihkan dan mewangikan masjid
Di sebagian tempat, kita temukan masjid-masjid tidak dirawat, yakni kotor dan agak bau. Ini merupakan sikap kurang peduli terhadap rumah Allah; Tuhan yang mengaruniakan kepada mereka rezeki yang banyak yang tidak terhitung jumlahnya. Padahal, kalau pun mereka sibuk, mereka bisa mengangkat seorang marbot untuk merawat masjid, lalu mereka bayar orang tersebut, atau memanfaatkan dari kotak amal yang ada untuk menggajinya.

Menghias Masjid
Sebagian masjid dihias secara berlebihan, tulisan kaligrafi tampak di dinding-dindingnya, padahal ini semua dapat mengganggu kekhusyuan orang yang shalat. Dan ini bukanlah termasuk memakmurkan masjid. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَا أُمِرْتُ بِتَشْيِيدِ اَلْمَسَاجِدِ

Aku tidak diperintahkan mentasyyid (meninggikan dan menghias) masjid-masjid.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban, dan dishahihkan oleh Al Albani)

Mengumandangkan azan dan menegakkan shalat berjamaah
Sebagian saudara-saudara kita -wal hamdulillah- telah membangun beberapa masjid, tetapi sayangnya mereka sekedar membangun, namun tidak mau memakmurkannya. Mereka tidak mengumandangkan azan dan melakukan shalat berjamaah di dalamnya, padahal keduanya merupakan syiar Islam yang agung, dan padahal di antara tujuan dibangunnya masjid adalah agar dipakai beribadah dan dapat ditegakkan shalat berjamaah di dalamnya.

Oleh karenanya, kita dapati sebagian masjid, terutama masjid-masjid kecil (biasa disebut mushalla) tidak dikumandangkan azan dan tidak ditegakkan shalat berjamaah di dalamnya. Ini adalah musibah.

Cara Memakmurkan Masjid


Mengadakan ta'lim di masjid
Saudaraku, mengapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika hijrah ke Madinah, yang pertama kali Beliau bangun adalah masjid? Hal itu karena masjid merupakan benteng utama untuk menjaga umat, menguatkan persaudaraan mereka, dan membina mereka di atas Islam. Di masjid itulah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mentarbiyah umat. Beliau mengajarkan syariat Islam; akidah yang benar, ibadah, akhlak dan lain-lain.

Datang ke masjid membawa bau tidak sedap
Sebagian orang ada yang datang ke masjid dengan bau mulut tidak sedap, seperti sehabis makan bawang merah, bawang putih, jengkol, pete, dan sebagainya, sehingga mengganggu saudaranya yang lain. Hal ini adalah dilarang. Oleh karena itu, hendaknya ia membersihkan dulu mulutnya sebelum datang ke masjid agar tidak mengganggu saudaranya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلًا، فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ لِيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا، وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ

"Barang siapa yang makan bawang putih atau bawang merah, hendaknya ia menyingkir dari kami atau menjauhi masjid kami dan duduk di rumahnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Termasuk perbuatan yang munkar pula yang dilakukan sebagian manusia adalah mereka merokok di dalam masjid, sehingga masjid berbau rokok, innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'un.

Besuara keras di masjid
Masjid adalah tempat ibadah, dan ibadah itu butuh ketenangan agar tercapai kekhusyuan. Oleh karena itu, tidak dibenarkan berisik di masjid.

Imam Bukhari meriwayatkan dari As Saa’ib bin Yazid ia berkata, “Aku pernah berdiri di masjid, lalu ada yang melempar batu kerikil kepadaku, maka aku melihat, ternyata orang itu adalah Umar bin Khaththab ia berkata, “Pergilah, ambillah kedua batu ini.” Aku pun datang kepadanya dengan membawa kedua batu itu. Ia (Umar) bertanya, “Siapa kamu berdua?” atau “Dari mana kamu berdua?” Keduanya menjawab, “Dari penduduk Tha’if.” Ia berkata, “Kalau kamu berdua berasal dari penduduk negeri ini, tentu kamu berdua aku sakiti; kamu telah mengeraskan suara di masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.”

Oleh karena itu, tidak dibenarkan berisik di masjid, terlebih ketika di sana ada yang sedang shalat, seperti yang terjadi antara azan dan iqamat, dimana sebagian manusia ada yang bernyanyi dan melantunkan syair-syair dengan pengeras suara di masjid padahal di sana ada orang yang sedang shalat sunat.

Adab di masjid
Sebagian manusia kurang peduli terhadap adab di masjid seakan-akan masjid adalah tempat biasa seperti tempat-tempat yang lain. Padahal di masjid ada beberapa adab yang perlu diperhatikan, di antaranya: berdoa sebelum masuk masjid dan ketika keluarnya, masuk kaki kanan dan keluar kaki kiri, melakukan shalat tahiyyatul masjid, berhias untuk shalat, dsb.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang yang berada di masjid
Ketaatan untuk diterimanya tergantung niat yang ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh karena itu, hendaknya seseorang melihat praktek ibadah yang dia lakukan; apakah ada dasarnya dari Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam atau tidak?

Demikian pula hendaknya ia memiliki niat yang ikhlas. Dia juga hendaknya meniatkan dalam hatinya beberapa niat yang baik dan menjaga sikap-sikapnya agar semakin besar pahalanya, yaitu: ingin bermunajat dengan Tuhannya, menunggu shalat berikutnya, menjaga lisannya, bertafakkur untuk akhirat, agar fokus beribadah kepada Allah Azza wa jalla, memberikan ilmu kepada yang lain, melakukan amr ma'ruf dan nahi munkar, berkenalan dengan saudara-saudaranya fillah, serta tidak berbuat maksiat di dalamnya karena malu kepada Allah Azza wa jalla, terlebih ia sedang berada di rumah-Nya.

Larangan-larangan di masjid
Dalam masjid ada beberapa larangan yang perlu diperhatikan. Larangan-larangan itu adalah: berjual-beli, mencari hewan atau barang yang hilang, menegakkan hukuman hudud di dalamnya, keluar dari masjid setelah azan dikumandangkan sampai shalat ditunaikan, berangkat ke masjid dengan tergesa-gesa, meludah di dalamnya, mendatangi masjid sehabis makan bawang merah, bawang putih dan makanan yang berbau tidak sedap lainnya, lewat di depan orang yang shalat, berisik, masuk ke masjid dengan membawa sesuatu yang membahayakan kaum muslim, seperti dengan senjata terbuka (tidak disarungkan), dsb. Demikian pula dilarang mencegah kaum wanita datang ke masjid, dan larangan bagi wanita datang ke masjid memakai wewangian, apalagi sampai membuka aurat.

Karena itulah, strategi memakmurkan masjid hendaknya terus digalakkan, sebagaimana diulas pada artikel Cara Memakmurkan Masjid di atas. (alamuslim.com)

Maraji': Ikhtishar Ishlalih Masajid lil Qasimi (M. Bin Rizq Tharhuni), Bulughul Maram min Adillatil Ahkaam (Ibnu Hajar Al 'Asqalani), Al Manhiyyat Asy Syar'iyyah (M. Bin Shalih Al Munajjid), Modul Akhlak 5 (Marwan bin Musa), Maktabah Syamilah versi 3.35 dan 3.45, dll.
_______________
                   [i] HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim. Al Qaari' dalam Al Mirqaat berkata, "Dikatakan, bahwa mereka itu adalah khalifah yang empat; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu 'anhum, karena Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda, "Kekhalifahan setelahku selama tiga puluh tahun," (HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Ya'la dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Al Albani),  dan hal itu berakhir dengan kehalifahan Ali karramallahu wajhah."
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com
 
close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah