Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774

upah badal haji dan pengertian badal haji adalah
Hukum badal haji menurut 4 madzhab
Alamuslim.com - Haji badal adalah haji yang digantikan orang lain. Banyak biro umroh menyediakan jasa haji badal dengan biaya tertentu. Ini yang disebut sebagai upah haji badal. Bagaimana hukumnya?

Terhadap upah badal haji mam Syafi’i di dalam kitab al-Umm berpendapat, antara lain;

قَالَ الشَّافِعِي رحمه الله تعالى لِلرَّجُلِ أَنْ يَسْتَأْجِرَ الرَّجُلَ يَحُجُّ عَنْهُ إِذَا كَانَ لاَ يَقْدِرُ عَلَى الْمَرْكَبِ لِضَعْفِهِ وَ كَانَ ذَل مَقْدِرَةٍ بِمَالِهِ وَ لِوَارِثِهِ بَعْدَهُ وَ الإِجَارَةُ عَلَى الْحَجِّ جَائِزَةٌ جَوَازُهاَ عَلَى الأَعْمَالِ سِوَاهُ بَلِ الإِجَارَةُ إِنْ شَاءَ اللهُ تعالى عَلَى الْبِرِّ خَيْرٌ مِنهَا عَلَى ماَ لاَ بِرَّ فِيْهِ وَ يَأْخُذُ مِنَ الإِجَارَةِ ماَ أَعْطَى وَ إِنْ كَثُرَ كَماَ يَأْخُذُهاَ عَلَى غَيْرِهِ لاَ فَرْقَ بَيْنَ ذَاِكَ

Imam Syafi’i berkata: “Seseorang boleh mengupah orang lain untuk menghajikan dirinya apabila ia lemah dan tidak mampu naik kendaraan, namun ia mempunyai harta yang cukup untuk ahli warisnya (keluarganya) selain upah yang dikeluarkan. Upah dalam pelaksanaan haji ini dibolehkan sebagaimana upah dalam ibadah-ibadah lain. Bahkan upah seperti ini insya Allah lebih baik, karena dipakai dalam kebaikan …..”

Mewakilkan ibadah haji termasuk perilaku berbuat taat, Imam Syafi’i memperbolehkan hal tersebut, pendapatnya begini:

تَجُوزُ الإِجَارَةُ عَلَى الْحَجِّ وَ لاَ تَجُوزُ عَلَى الإِماَمَةِ فِي الصَّلاَةِ الْفَرَائِضِ

Diperbolehkan upah atas haji, namun tidak diperbolehkan upah untuk imam shalat fardhu.”

Menurut riwayat Ahmad, mereka yang membolehkan memberi upah badal haji adalah Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Ibnu Mundzir. Dalil yang mereka ambil adalah sabda Rasulullah antara lain:

إِنَّ أَحَقَّ ماَ أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْراً كِتَابُ اللهِ

Sesungguhnya upah yang paling hak untuk kamu ambil ialah imbalan dari Kitabullah.” (HR. Bukhari)

Para sahabat pernah menerima upah dari hasil ruqyah dengan surah al-Fatihah. Lalu, mereka menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah mendengar hal itu, Rasulullah membenarkan tindakan mereka. Untuk menegaskan kehalalan perbuatan mereka, Rasulullah SAW bersabda;

احْتَجِمْ وَ اعْطِ الْحَجَّامَ أَجْرَهُ

Berbekamlah kamu, kemudian berikanlah olehmu upahnya kepada tukang bekam itu.

Orang yang telah mengumpulkan semua syarat haji dari segi harta (materi), tetapi dia sudah lemah untuk melakukannya sendiri secara langsung karena tua, atau diserang penyakit yang tidak bisa diharapkan sembuhnya, maka kewajiban untuk melaksanakannya secara langsung gugur, begitulah menurut kesepakatan ulama’ mazhab, berdasarkan firman Allah QS. al-Hajj:

وَ ماَ جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ

“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”

Dari penjelasan di atas menurut penulis, Imam Syafi’i menganjurkan untuk melakukan badal  haji  karena  menurut  beliau  ibadah haji tidak gugur meskipun orang tersebut tidak mampu secara fisik karena udzur yang membuatnya tidak bisa melakukan ibadah haji sendiri maupun telah meninggal dunia, dengan catatan bahwa seseorang tersebut secara finansial mampu untuk mengupah haji kepada seseorang, dan keluarga yang ditinggal, juga mampu untuk  membiayai badal haji bagi keluarganya yang telah meninggal.

Hal tersebut menurut Imam Syafi’i sangat dianjurkan karena harta itu ditasyarufkan (digunakan) dalam hal kebaikan. Oleh sebab itu, beliau memperbolehkan untuk mengupah/mengambil upah badal haji atas jasa yang dilakukan pembadal.

Pengertian Badal Haji
Istilah badal haji punya istilah yang lebih baku dalam ilmu fiqih, yaitu al-hajju ‘anil ghair. Maknanya adalah berhaji untuk orang lain. Intinya seseorang mengerjakan ibadah haji bukan untuk dirinya tetapi untuk orang lain.

Untuk itu ada beberapa syarat dan ketentuan, baik terkait dengan yang menghajikan dan yang dihajikan.

1. Dasar Hukum Badal Haji
Berhaji dengan niat untuk orang lain ini didasarkan kepada beberapa hadits Rasulullah SAW, diantaranya hadits seorang wanita dari suku Khasy’am yang bertanya kepada beliau SAW tentang Ayahnya yang masih hidup namun sudah sangat sepuh dan tidak mampu berangkat haji:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لا يَثْبُتُ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ

Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban dari Allah untuk berhajji bagi hamba-hambaNya datang saat bapakku sudah tua renta dan dia tidak akan kuat menempuh perjalanannya. Apakah aku boleh menghajjikan atas namanya?. Beliau menjawab: Boleh. Peristiwa ini terjadi ketika hajji wada’ (perpisahan). (HR. Bukhari)

Selain itu juga hadits lain yang senada, yang meriwayatkan tentang seorang wanita dari suku Juhainah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ibunya yang sewaktu masih hidup pernah bernadzar untuk berangkat haji namun belum kesampaian sudah wafat.

إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ وَلَمْ تَحُجّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنَ أَكُنْتِ قَاضِيْتُهُ؟ اقْضُوا اللهَ فاللهُ أَحَقُّ بِالوَفَاءِ

“Ibu saya pernah bernadzar untuk mengerjakan haji, namun belum sempat mengerjakannya beliau meninggal dunia. Apakah saya boleh mengerjakan haji untuk beliau?”. Rasulullah SAW menjawab,”Ya, kerjakan ibadah haji untuk beliau. Tidakkah kamu tahu bahwa bila ibumu punya hutang, bukankah kamu akan melunasinya?”. Lunasilah hutang ibumu kepada Allah, karena hutang kepada Allah harus lebih diutamakan. (HR. Bukhari)

2. Syarat Bagi Orang yang Dihajikan
Kalau kita bicara tentang syarat yang harus terpenuhi pada diri orang yang minta dihajikan, setidaknya ada dua syarat. Pertama, orang itu sudah memenuhi syarat kewajiban haji. Kedua, orang itu mengalami al-ajzu.

a. Cukup Syarat Kewajiban Haji
Syarat yang paling utama adalah sudah tercukupinya kewajiban haji atas dirinya, seperti beragama Islam, aqil, baligh, merdeka dan punya harta yang dapat membiayai semua perjalanan ibadah hajinya.

Maka seorang yang bukan beragama Islam ketika masih hidupnya dan mati dalam keadaan bukan muslim, dia tidak boleh dihajikan oleh keluarganya yang muslim. Sebab orang itu pada dasarnya memang bukan termasuk mereka yang dibebani untuk mengerjakan ibadah haji.

Hukum Badal Haji


Demikian pula halnya dengan anak kecil yang meninggalkan dunia, orang tuanya tidak perlu menghajikannya, karena pada dasarnya anak kecil memang belum diwajibkan untuk mengerjakan haji.

Orang gila yang tidak waras juga bukan termasuk orang yang wajib mengerjakan ibadah haji, maka keluarganya tidak perlu menghajikannya.

b. Al-’Ajzu
Orang yang cukup syarat wajib haji atas dirinya bisa saja mengalami al-ajzu, yaitu ketidak-mampuan secara fisik untuk berangkat sendiri dan mengerjakannya ibadah haji sendiri. Bisa saja karena sakit atau karena didahului oleh kematian. Para ulama mengistilahkannya dengan sebutan al-’ajzu (kelemahan).

Maka orang yang sehat dan mampu untuk berangkat sendiri ke tanah suci, tidak boleh meminta orang lain untuk mengerjakan seluruh rangkaian ibadah haji untuk dirinya, lalu dia duduk manis di rumahnya sambil nonton TV dan makan-makan.

3. Syarat Orang yang Menjadi Badal (Berhaji Untuk Orang Lain)

a. Terpenuhi Syarat Sah Haji Bagi Dirinya
Sebagaimana sudah dijabarkan pada bab-bab sebelum, bahwa yang termasuk ke dalam syarat-syarat sah haji adalah beragama Islam dan berakal. Dan khusus buat para wanita, syaratnya harus ada izin dari suami atau mahram serta tidak sedang dalam masa iddah.

b. Sudah Pernah Berhaji
Orang yang akan menjadi badal atau berhaji untuk orang lain itu disyaratkan harus sudah pernah sebelumnya mengerjakan ibadah haji yang hukumnya wajib, yaitu haji wajib untuk dirinya sendiri.

Dasarnya adalah hadits berikut :

حُجّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجّ عَنْ شُبْرُمَة

Lakukan dulu haji untuk dirimu baru kemudian berhajilah untuk Syubrumah. (HR. Bukhari)

Kisahnya adalah ketika Rasulullah SAW mendengar seseorang yang mengerjakan haji dengan niat untuk orang lain. Orang itu mengucapkan : labbaika an Syubrumah. Maksudnya dia melafazkan niat haji dengan mengucapkan bahwa Aku mendengar panggilan-Mu atas nama Syubrumah.

Rasulullah SAW kemudian bertanya,”Siapa Syubrumah?”. Orang itu menjawab bahwa Syubrumah adalah saudaranya atau familinya. Lalu Rasullah SAW bertanya lagi,”Apakah kamu sudah pernah berhaji untuk dirimu sendiri”?. Orang itu menjawab,”Belum”. Maka Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang itu harus berhaji untuk dirinya sendiri dulu, baru setelah untuk orang lain.

Para ulama menarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan berhaji untuk dirinya sendiri adalah haji Islam atau haji yang hukumnya wajib. Atau dengan kata lain bahwa orang itu harus sudah menggugurkan kewajibannya untuk mengerjakan ibadah haji sebagai mukallaf, baru setelah itu dia boleh mengerjakan haji untuk orang lain yang hukumnya sunnah.

Dan hal itu hanya terjadi ketika seseorang sudah berusia baligh. Sebab haji yang dilakukan oleh seorang anak kecil yang belum baligh, meski pun hukumnya sah, namun nilainya hanya sekedar menjadi haji yang hukumnya sunnah. Belum lagi menjadi haji yang wajib hukumnya.

Maka kalau orang itu pernah haji sekali saja tetapi masih usia kanak-kanak, dia masih belum boleh melakukan haji untuk orang lain, karena belum cukup syaratnya.

3. Yang Dihajikan Meninggal Dalam Keadaan Muslim
Syarat kedua adalah apabila yang dihajikan itu orang yang telah meninggal dunia, syaratnya bahwa dia adalah seorang muslim, minimal pada saat terakhir dari detik-detik kehidupannya.

Sebab orang yang matinya bukan dalam keadaan iman dan berislam, maka haram hukumnya untuk didoakan, termasuk juga haram untuk dihajikan.

Dasarnya secara umum adalah ayat Al-Quran yang mengharamkan kita umat Islam untuk mendoakan jenazah orang kafir atau memintakan ampunan.

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُواْ أُوْلِي قُرْبَى مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.(QS. At-Taubah : 113)

Adapun apakah orang itu pernah mengerjakan dosa, maksiat atau hal-hal yang kita tidak tahu kedudukannya, tentu tidak bisa dijadikan dasar untuk melarangnya. Satu-satu halangan untuk menghajikannya adalah bila orang itu benar-benar telah jelas berstatus bukan muslim secara formal dan sah.

4. Orang Yang Dihajikan Benar-benar Tidak Mampu
Dimungkinkan juga mengerjakan haji untuk orang yang belum meninggal dunia dan masih hidup. Maka kalau orang yang dihajikan itu masih hidup, syaratnya selain dia harus berstatus muslim, dia adalah orang yang benar-benar tidak mampu untuk mengerjakan rangkaian ibadah haji secara fisik.

Yang dimaksud dengan ketidak-mampuan itu bukan dari segi finansial, tetapi karena usianya yang sudah sangat tua dan menyulitkan dirinya, atau pun karena faktor kesehatan yang kurang mengizinkan dan sulit diharapkan untuk mendapatkan kesembuhan dalam waktu dekat. (alamuslim.com)

Ahmad Sarwat, Lc., MA, Direktur Rumah Fiqh Indonesia.

Demikian haji badal dan hukum upah haji badal menurut para imam madzhab fiqih yang fatwanya banyak dianut di Indonesia.
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com
 
close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah