Billboard Ads

https://masterkey.masterweb.com/aff.php?aff=12774

Alamuslim.com - Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengingatkan kembali sejarah penghianatan kaum komunis terhadap Republik dalam berbagai kesempatan sejak Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945.

Upaya pemberontakan komunis pertama di Indonesia juga sekaligus pemberontakan pertama di Indonesia yang dilakukan oleh Tan Malaka yang baru kembali setelah kabur dari kejaran Belanda tahun 1920an.

Upaya Tan Malaka memberontak diawali dengan menghubungi Sjahrir dan mengajukan usul untuk bergabung dengan dirinya demi menggulingkan Soekarno-Hatta, Presiden dan Wakil Presiden saat itu. Jika berhasil, maka Tan Malaka akan jadi presiden, sementara Sjahrir akan memimpin kabinet dan memegang Kementerian Pertahanan, Kemakmuran, Dalam Negeri dan Luar Negeri.

Saat itu Tan Malaka yakin mendapat dukungan dari gerakan bawah tanah pimpinan Soekarni sehingga dengan bergabungnya Sjahrir akan cukup untuk menggulingkan Soekarno-Hatta. Usul Tan Malaka ini kemudian ditolak Sjahrir.

Karena penolakan Sjahrir ini, maka dengan bantuan temannya yang bernama Soebardjo, Tan Malaka diam-diam menembaki mobil Soekarno sehingga supirnya terluka. Antek Tan Malaka ini juga menembaki mobil Sjahrir dan Hatta.

Setelah itu Tan Malaka menemui Soekarno dan menekankan bahwa akan jadi bencana bagi Indonesia bila Soekarno dan Hatta tertangkap atau terbunuh, kemudian memberi saran supaya keduanya membuat surat wasiat dalam hal bencana tersebut terjadi.

Terjebak oleh Tan Malaka, Soekarno ahirnya membentuk empat-sekawan ahli waris yang terdiri dari para pemimpin yang akan memimpin Indonesia secara kolegial apabila Soekarno-Hatta berhalangan, yaitu Tan Malaka, Sjahrir, Iwa Koesoemasoemantri dan Wongsonegoro.

Soebarjo, kawan Tan Malaka diberi tugas oleh Soekarno untuk memberitahu keputusan surat wasiat tersebut kepada Sjahrir, Iwa K dan Wongsonegoro, namun dia tidak melakukannya. Kemudian Tan Malaka menulis wasiat lain dan memalsukan tanda tangan Soekarno-Hatta, yang pada intinya menyatakan Soekarno-Hatta menyerahkan seluruh kekuasaan kepadanya bila mereka tidak mampu menjalankan tugas sebagai pemimpin.

Selanjutnya Tan Malaka keliling Indonesia untuk mempropagandakan isi surat wasiat palsu dengan mengatakan bahwa Soekarno dan Hatta adalah antek penjajah Inggris dan Belanda. Propaganda terus menerus dari Tan Malaka ini berhasil memperlemah posisi Soekarno dan Hatta secara signifikan.

Selanjutnya pada tanggal 31 Oktober 1945, kubu Tan Malaka berusaha mengadu domba Soekarno dan Hatta dengan mengirim Soekarni kepada Hatta dan mengusulkan agar Tan Malaka mengganti Soekarno sebagai presiden sebab Tan Malaka lebih cocok memimpin revolusi. Usulan tersebut ditolak Hatta.

Sejarah Penghianatan PKI 1965


Terdapat bukti bahwa Tan Malaka kemudian mengusulkan agar dicari cara-cara untuk menyingkirkan Soekarno dan Hatta sehingga surat wasiat sebelumnya dapat berlaku secara sah, termasuk membunuh keduanya.

Upaya Tan Malaka dan Soebardjo mendongkel Soekarno-Hatta baru berakhir dan beralih ke mendongkel Sjahrir saat pemerintahan Republik beralih dari presidensial menjadi parlementer dengan Sjahrir menjadi perdana menterinya.

Semua upaya Tan Malaka-pun beralih fokus menjadi menjatuhkan Sjahrir dan kabinetnya yang baru dengan berbagai mesin politik yang menakutkan yang tugasnya adalah merongrong serta menjatuhkan kabinet Sjahrir untuk digantikan dengan Tan Malaka.

Di sela-sela upaya pemberontakan Tan Malaka, pada akhir Oktober 1945, PKI di bawah pimpinan Mohammad Jusuf melakukan pemberontakan terhadap pemerintah di Pekalongan dan menyerang barak polisi Republik Indonesia, sebelum akhirnya pemberontakan tersebut gagal, dan Jusuf digantikan Sardjono dan kemudian Alimin.

Ketika keduanya kembali dari pengasingan di luar negeri dengan membawa agenda komintern dan Partai Komunis Belanda untuk menghancurkan Republik Indonesia dan memiliki tujuan mempersatukan Belanda dengan Indonesia sehingga sejak saat itu PKI menjadi anti-Republik dan bahkan ikut mempropagandakan bahwa Soekarno-Hatta dan Republik Indonesia adalah buatan Jepang dan fasis.

Sementara itu, Tan Malaka yang tersingkir dari perpolitikan nasional setelah Soekarno dan Sjahrir rekonsiliasi membangun gerakan massa bernama Persatuan Perjuangan (PP) untuk menentang pemerintah dan terus melakukan agitasi bahwa pemerintah di bawah Soekarno-Hatta-Sjahrir adalah perpanjangan tangan Inggris dan Belanda yang pro penjajah.

Agitasi Tan Malaka untuk memperlemah kepemimpinan nasional ini menarik dukungan luas dari mereka yang menentang Soekarno-Hatta-Sjahrir dan berhasil merangkul 141 organisasi. Melalui PP, Tan Malaka untuk sementara berhasil menggulingkan dan menggantikan kelompok Sjahrir dan menyingkirkan Soekarno, tapi kemudian mereka kembali kalah dan memilih untuk mengangkat senjata dan di berbagai Indonesia, PP terus melawan arahan-arahan pemerintah.

Pada tanggal 27 Juni 1946, Tan Malaka dan Mayor Jenderal Soedarsono menculik Sjahrir, Darmawan dan Soedijo yang sedang berkunjung ke Surakarta dalam perjalanan pulang dari Jawa Timur.

Penculikan ini adalah salah satu cara mencapai tujuan para pemimpin konspirator-Tan Malaka, Soebardjo, Yamin, Soekarni, Pandu Wiguna, Iwa K, Sajuti, Soemantoro, Dr. Buntaran, Soedarsono dan lain-lain- untuk menggulingkan seluruh pemerintahan termasuk Sekarno dan Hatta untuk digantikan oleh Tan Malaka sebagai presiden.

Sejarah mencatat, pemberontakan Tan Malaka melalui tangan militer Soedarsono ini digagalkan oleh Pak Harto tanpa menembakan senjata sekalipun.

Setelah ancaman komunis dari Tan Malaka berhasil digagalkan, beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1948, kubu komunis saingan Tan Malaka yang dipimpin oleh Musso melakukan pemberontakan di Madiun dan dalam prosesnya melakukan berbagai kejahatan kemanusiaan pada saat Indonesia sedang bersiap menghadapi agresi militer Belanda kedua. Pemberontakan ini kemudian digagalkan oleh Divisi Siliwangi.

Kemudian beberapa komunis yang berhasil meloloskan diri dari kejaran Siliwangi tahun 1948 berhasil merehabilitasi PKI dan bahkan menjadikannya sebagai partainya Soekarno sampai mereka melakukan pemberontakan dengan men-daulat jenderal-jenderal angkatan darat penting dalam peristiwa G30S/PKI.

Pemberontakan untuk kesekian kalinya ini membuat Pemerintah Indonesia memutuskan melarang PKI, penyebaran marxisme, leninsme dan komunisme di bumi Indonesia. (alamuslim.com)

Oleh Hendra B
Advertisement
edit post icon  www.alamuslim.com
 
close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah